Kota Bima, Garda Asakota.-Dulu waktu kita sering mendapat nasehat dari orang tua untuk banyak minum sebelum waktu Imsak, nanti seharian nggak bisa minum karena sedang berpuasa.
Nasehat itu terus dipraktekkan sampai sekarang. Bahkan diteruskan ke anak-anak. Akibatnya rasa kebelet pipis itu begitu mendesak dan hebat, dan nggak cuma sekali, setelah shalat Subuh.
Subuh baru selesai, perut sudah mulai bergejolak dan toilet mesjid mendadak menjadi tempat paling populer saat bulan Ramadhan. Apakah puasa harus dijalani dengan penderitaan kandung kemih Ternyata tidak. Ginjal kita bukan galon air yang bisa menyimpan cadangan untuk siang hari. Kalau kita minum banyak saat sahur, ginjal akan berkata: “Terima kasih, tapi ini kebanyakan.” “Mari kita keluarkan sekarang juga.” Hasilnya? Bolak-balik ke toilet setelah Subuh.
Apakah sebulan penuh saya harus tersiksa seperti ini? Ramadhan tak semestinya menyiksa seperti ini. Itulah gunanya kita diminta untuk mempelajari ayat-ayat kauniah di alam semesta. Maka saya pelajari kembali fungsi ginjal dan proses berkemih (urinasi).
Dan inilah solusi untuk masalah di atas:.
Minumlah SECUKUPNYA ketika sahur. Jangan berlebihan. Apalagi menjelang imsak.
Minumlah sebanyak-banyaknya saat berbuka hingga sebelum tidur. Misal: 1-2 gelas setiap jam. Shalat tarawih anda tidak akan terganggu oleh urusan ke toilet.
Kenapa begitu?
Ginjal kita bekerja nonstop 24 jam sesuai kebutuhan. Ginjal tahu kapan harus menahan air dan kapan harus membuangnya.
MINUM SECUKUPNYA KETIKA SAHUR
Ginjal bekerja sesuai kebutuhan, dan tidak mengenal prinsip deposit atau penyimpanan di muka.
Tiga fungsi ginjal: FILTRASI: menyaring darah dan zat-zat yang terlarut di dalamnya. REABSORPSI, menyerap kembali cairan dan zat-zat terlarut yang masih dibutuhkan. EKSKRESI, membuang kelebihan cairan dan zat-zat terlarut yang sudah tidak dibutuhkan lagi atau terdapat dalam jumlah berlebih, dalam bentuk air seni.
Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut ginjal tentu membutuhkan energi. Dan energi kita paling banyak adalah sesaat setelah sahur. Jadi ginjal bekerja ekstra keras setelah sahur, dan salah satu efek yang kita rasakan adalah buang air kecil.
Jika anda banyak minum saat sahur maka ginjal akan membuang kelebihan cairan yang anda minum dalam volume besar dalam waktu singkat. Itulah yang terjadi dengan kebelet pipis berkali-kali sehabis Subuh.
Setelah jam 10 pagi, seiring dengan sudah tidak adanya lagi pemasukan air minum dalam 5 jam terakhir, dan cadangan energi juga mulai berkurang, umumnya kebutuhan untuk buang air kecil sudah sangat mereda.
Ba’da shalat Dzuhur rasanya sudah tidak butuh ke toilet lagi. Aktivitas filtrasi, reabsorpsi dan ekskresi ginjal mencapai titik terendah. Kenapa? Karena sudah lebih dari 6 jam tak ada setetes pun air yang kita minum. Kelebihan air dan “sampah-sampah” zat terlarut di dalam darah sudah hampir semuanya dibuang. Cadangan energi tubuh kita sudah sangat jauh berkurang. Ini artinya di jam-jam tersebut ginjal, saluran kemih dan kantung kemih bisa beristirahat untuk sementara, karena tidak ada urine yang terbentuk dan perlu dikeluarkan.
Itu sebabnya puasa juga sering disebut bermanfaat sebagai salah satu proses detoksifikasi, karena selama setengah hari organ-organ yang berurusan dengan proses perkemihan itu boleh rehat sejenak. Setelah “sampah-sampah” dan kelebihan zat terlarut seperti ureum, creatinine, asam urat, phosphat, natrium, kalium, bikarbonat dan kalsium telah “disapu bersih” di pagi hari.
Hal ini berbeda dengan ketika kita tidak berpuasa, ginjal akan bekerja dengan kecepatan standar, jadi urine dikeluarkan sedikit demi sedikit dalam waktu 24 jam. Kecuali sewaktu kita tidur.
MINUM YANG BANYAK KETIKA BERBUKA
Untuk mengkompensasi kekurangan suplai air minum selama 13 jam berpuasa, dan ginjal mati-matian mengurangi produksi dan pengeluaran air seni, minumlah sebanyak-banyaknya sewaktu berbuka hingga waktunya tidur, agar ginjal bisa kembali bekerja normal melakukan filtrasi, reabsorpsi dan ekskresi.
Memproduksi dan mengeluarkan air seni. Dan yang lebih penting: anda tidak perlu lagi sengsara kebelet pipis setiap habis shalat Subuh atau saat berangkat ke kantor pagi-pagi. Shalat tarawih anda juga tidak terganggu, karena ginjal memiliki banyak energi setelah berbuka, sehingga tidak harus bersegera memproduksi dan mengeluarkan air seni.
Apakah nanti di siang hari tidak akan kehausan atau mengalami dehidrasi? TIDAK. Ketika kita mengucapkan niat berpuasa, kita memberi tahu kelenjar hypothalamus, bahwa: tidak akan ada pemasukan air minum sama sekali selama 13 jam ke depan. Dan hypothalamus akan SELALU menjalankan tugasnya dengan baik. Milyaran orang di muka bumi sudah membuktikan itu selama lebih dari 1.400 tahun
Pada akhirnya, puasa bukanlah tentang menahan haus dan lapar semata, melainkan tentang memahami tubuh, menjaga kesehatan, dan meraih ketenangan ibadah. Dengan pola minum yang tepat saat sahur dan terpenuhi dengan baik setelah berbuka, kita dapat menjalani Ramadhan dengan lebih nyaman, tanpa gangguan kandung kemih dan tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah.
Tubuh kita diciptakan dengan mekanisme yang sangat cerdas. Ketika kita memahami dan mengikuti cara kerjanya, puasa tidak lagi terasa berat, tetapi justru menjadi sarana pemurnian diri, kesehatan, dan kedamaian batin.
Mari menjalani Ramadhan dengan lebih bijak: sehat tubuhnya, tenang jiwanya, dan sempurna ibadahnya. Ramadhan nyaman, ibadah pun semakin khusyuk.*Penulis: Ns. Arif Budiwibowo., MMR, Dosen STIKES Yahya Bima.



















