Pengabdian Tanpa Batas: Ketua DPK PPNI STIKES Yahya Soroti Keteladanan Perawat Alumni di Balik Kisah Pilu UGD

Foto: Ist

Kota Bima, Garda Asakota.-Kisah mengharukan datang dari ruang Unit Gawat Darurat (UGD) salah satu rumah sakit di Kabupaten Bima. Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan tinggi pelayanan medis, terselip cerita tentang dedikasi seorang perawat yang mengabdikan diri tanpa batas, sebuah potret nyata kemanusiaan yang menggugah hati.

Perawat tersebut diketahui merupakan alumni STIKES Yahya Bima. Dalam kesehariannya, ia dikenal sebagai sosok profesional, sigap, dan penuh empati. Tanpa memandang latar belakang pasien baik umum, BPJS, maupun tanpa identitas, ia tetap memberikan pelayanan terbaik dengan standar kemanusiaan yang tinggi.

Pada suatu pagi, suasana UGD mendadak tegang saat seorang korban kecelakaan berat dilarikan masuk. Dengan kondisi luka serius di kepala dan Bagian tubuh lainya, pasien langsung mendapatkan penanganan cepat. Tanpa mempertanyakan identitas, sang perawat bersama tim medis fokus melakukan tindakan penyelamatan demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa.

Namun, takdir berkata lain. Setelah berbagai upaya maksimal dilakukan, nyawa korban tidak dapat diselamatkan. Suasana berubah hening, tangis keluarga pecah, menyelimuti ruangan dengan duka mendalam.

Fakta yang terungkap kemudian membuat suasana semakin pilu. Pasien yang ditangani dengan sepenuh hati itu ternyata adalah anak kandung dari perawat tersebut sendiri.

Ketegaran yang sejak awal terlihat, runtuh seketika. Tangis haru tak terbendung. Ia baru menyadari bahwa sosok yang diperjuangkannya di meja penanganan adalah darah dagingnya sendiri.

Menanggapi peristiwa ini, Ketua DPK PPNI STIKES Yahya Bima, Ners Ijhul, menyampaikan pandangannya bahwa kisah tersebut menjadi cerminan nyata nilai luhur profesi keperawatan.

“Ini bukan hanya kisah pilu, tetapi juga pelajaran besar tentang profesionalisme, integritas, dan keikhlasan seorang perawat. Alumni STIKES Yahya harus menjadikan ini sebagai refleksi bahwa tugas perawat adalah pengabdian total kepada kemanusiaan, tanpa sekat dan tanpa pamrih,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Ia juga menegaskan bahwa perawat dituntut untuk tetap menjunjung tinggi etika profesi dalam kondisi apa pun, bahkan ketika dihadapkan pada situasi yang sangat pribadi dan emosional.

“Perawat adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Mereka bekerja dalam tekanan, risiko tinggi, dan sering kali dalam keterbatasan. Namun nilai kemanusiaan harus tetap menjadi landasan utama,” tambahnya.

Kisah ini menjadi pengingat mendalam bagi seluruh tenaga kesehatan, khususnya perawat, tentang arti sejati pengabdian. Di balik seragam putih yang dikenakan, terdapat tanggung jawab besar, ketulusan, serta pengorbanan yang tak ternilai.

Lebih dari itu, peristiwa ini juga menjadi seruan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memberikan perhatian lebih terhadap profesi perawat—baik dari segi perlindungan, kesejahteraan, maupun penghargaan atas dedikasi mereka.

Karena sejatinya, di setiap tindakan penyelamatan, ada hati yang bekerja dengan tulus—bahkan dalam luka yang paling dalam sekalipun. (GA. 212*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page