Porprov NTB 2026 Disiapkan Jadi Panggung Seleksi Menuju PON 2028, 7.000 Atlet Diproyeksikan Ambil Bagian

Ketua KONI NTB, H Mori Hanafi.

Mataram, Garda Asakota.- Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Nusa Tenggara Barat 2026 tak lagi sekadar ajang kompetisi rutin dua tahunan. Ketua KONI NTB, H Mori Hanafi, menyebut hajatan olahraga daerah yang dijadwalkan mulai 16 Juli 2026 itu kini diposisikan sebagai panggung awal penyaringan atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) NTB-NTT 2028, dengan lonjakan jumlah peserta yang signifikan.

Kepada wartawan, Pria yang menjabat sebagai Ketua Partai Nasdem NTB yang juga Anggota Komisi V DPR RI ini mengungkapkan bahwa Porprov kali ini diproyeksikan diikuti sekitar 7.000 atlet, meningkat tajam dibandingkan pelaksanaan 2023 yang hanya diikuti sekitar 4.700 atlet.

Lonjakan itu, menurutnya, bukan tanpa alasan. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan olahraga tengah membuka lebih banyak nomor pertandingan, termasuk cabang-cabang yang sebelumnya belum dipertandingkan.

“Porprov ini kita desain sebagai ‘road to PON 2028’. Jadi bukan sekadar event, tapi bagian dari proses pembinaan. Atlet yang juara 1, 2, dan 3 berpeluang besar langsung masuk radar untuk PON,” ujarnya.

Jumlah cabang olahraga pun bertambah drastis, dari sebelumnya 35 cabang menjadi sekitar 51 cabang. Beberapa di antaranya bahkan tergolong baru bagi NTB, seperti cricket dan dayung, yang mulai dipersiapkan agar bisa bersaing di level nasional. Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan dalam pengembangan cabang-cabang tersebut, baik dari sisi fasilitas maupun kesiapan teknis.

Pelaksanaan Porprov 2026 rencananya dipusatkan di Kota Mataram, dengan sebagian pertandingan tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Pulau Lombok. Sementara itu, Kabupaten Sumbawa Barat juga akan menjadi salah satu lokasi pertandingan untuk beberapa cabang seperti kickboxing dan panahan.

Dari sisi penyelenggaraan, standar yang diterapkan disebut akan mengacu pada pelaksanaan PON, mulai dari pembukaan dan penutupan, hingga aspek teknis seperti keamanan, transportasi, kesehatan, dan akomodasi atlet.

Namun, di balik ambisi besar itu, persoalan anggaran masih menjadi pekerjaan rumah. Dari anggaran yang dipersiapkan oleh pemerintah belum mencukupi kebutuhan riil yang diperkirakan masih kurang sekitar Rp3 miliar.

“Dengan jumlah atlet yang mencapai 7.000 dan cabang olahraga yang bertambah, kebutuhan anggaran jelas meningkat. Kekurangannya sekitar Rp3 miliar, dan itu harus kita cari solusinya,” katanya.

Untuk menutup kekurangan tersebut, panitia pelaksana berencana menggandeng pihak ketiga, termasuk sponsor dari kalangan swasta. Langkah efisiensi juga akan dilakukan agar pelaksanaan tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas.

Meski dihadapkan pada keterbatasan fiskal, ia menegaskan optimisme bahwa Porprov NTB 2026 tetap bisa digelar dengan baik. Pengalaman penyelenggaraan sebelumnya menjadi modal penting untuk memastikan event ini tidak hanya sukses sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai fondasi kuat menuju PON 2028. (GA. Im*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page