Jakarta, Garda Asakota.-Terpilihnya Mori Hanafi sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Keluarga Alumni Universitas Pancasila (PP KAUP) periode 2026–2030 bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi alumni. Lebih dari itu, momentum ini dibaca sebagai upaya menggeser peran alumni dari sekadar komunitas nostalgia menjadi simpul strategis yang mampu menjahit jejaring profesional lintas sektor di tingkat nasional.
Dalam Musyawarah Alumni 2026 yang digelar di Jakarta, Minggu (12/4/2026), Mori resmi menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Sufmi Dasco Ahmad—politisi senior dari Partai Gerindra yang juga Ketua Harian DPP Partai Gerindra dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029. Penetapan tersebut diumumkan langsung oleh presidium sidang yang memimpin jalannya musyawarah.
“Untuk itu kita selamati bersama bahwa yang ditetapkan Ketua Umum PP KAUP periode 2026–2030 adalah saudara Mori Hanafi,” ujar presidium dalam forum tersebut.
Mori bukan nama baru dalam lanskap politik Nusa Tenggara Barat. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD NTB dan kini juga dipercaya sebagai Ketua Partai NasDem Provinsi NTB. Kombinasi pengalaman legislatif daerah dan posisi strategis di tingkat partai ini memberi warna tersendiri dalam arah kepemimpinannya di organisasi alumni.
Namun yang menarik, arah kepemimpinan Mori tidak berhenti pada konsolidasi internal. Politikus Partai NasDem ini justru menempatkan KAUP sebagai “mesin konektivitas” yang menghubungkan alumni dengan kebutuhan riil dunia kerja dan pembangunan nasional.
Ia memotret organisasi alumni sebagai kekuatan sosial yang selama ini belum sepenuhnya dioptimalkan. Karena itu, visinya menjadikan KAUP sebagai “rumah besar” tidak hanya dimaknai sebagai ruang berkumpul, tetapi sebagai ekosistem yang produktif—tempat lahirnya profesional unggul berbasis nilai-nilai Pancasila.
“KAUP harus melampaui sekat angkatan dan fakultas. Kita ingin organisasi ini benar-benar hidup, melayani, dan berdampak,” kata Mori.
Untuk menggerakkan visi tersebut, Mori merancang tiga pilar utama. Pertama, membangun konektivitas inklusif melalui penguatan jaringan komunikasi antar alumni lintas generasi dan profesi. Dalam konteks ini, KAUP diposisikan sebagai hub yang mempertemukan berbagai kepentingan strategis.
Kedua, peningkatan kualitas sumber daya alumni melalui program berkelanjutan seperti pelatihan, pengembangan kompetensi, hingga sertifikasi. Mori melihat tantangan global menuntut alumni tidak hanya adaptif, tetapi juga kompetitif.
Ketiga, memperluas kontribusi sosial melalui kemitraan strategis dan program pengabdian masyarakat. Ia menilai alumni memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dalam menjawab persoalan bangsa, bukan hanya bergerak di ruang profesional masing-masing.
Pergantian kepemimpinan dari Dasco kepada Mori pun menandai fase transisi dari model organisasi berbasis figur ke arah sistem yang lebih kolaboratif dan terstruktur. Jika sebelumnya KAUP dikenal sebagai wadah silaturahmi, ke depan organisasi ini didorong menjadi aktor penting dalam ekosistem pembangunan sumber daya manusia.
Dengan latar belakangnya sebagai legislator dari Daerah Pemilihan NTB 1 Pulau Sumbawa, Mori membawa perspektif daerah ke panggung nasional. Ia ingin memastikan bahwa jaringan alumni tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau daerah sebagai basis pertumbuhan baru.
“Mari maju bersama, berkah untuk bangsa,” ujarnya, menegaskan ajakan kolektif kepada seluruh alumni Universitas Pancasila.
Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, arah baru KAUP di bawah Mori Hanafi tampaknya sedang menguji satu hal: sejauh mana jejaring alumni bisa bertransformasi menjadi kekuatan nyata yang tidak hanya solid di dalam, tetapi juga relevan di luar. (GA, Im*)
















