Kota Bima, Garda Asakota.-Ketika sebagian warga Indonesia masih mempertanyakan apakah hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah jatuh Jumat 20 atau Sabtu 21 Maret 2026, namun pada Kamis pagi ini justru sebagian umat Islam, termasuk di Kelurahan Ntobo Kota Bima, sudah mengumandangkan takbir dan menggelar Salat Id.
Ramadhan sebulan penuh resmi berakhir, lorong-lorong gang mendadak ramai, peci dipasang rapi, anak-anak membangunkan tetangga, dan opor ayam mulai menurunkan uapnya.
Di Kelurahan Ntobo, pemandangan itu terasa lebih awal dari biasanya. Warga Ntobo memang punya kebiasaan lama, memulai puasa lebih cepat dibanding kebanyakan kawasan Bima dan sekitarnya, sehingga mereka juga salat Id lebih awal.
Tahun ini tak berbeda, sebuah tanah lapang di Kompleks Ponpes Darul Ulumi Wal Amal Kelurahan Ntobo Kota Bima sudah padat, ratusan jamaah hadir, takbir bersahutan dari jamaah Tarekat Naqsabandiyah dan memulai pelaksanaan shalat Id sekitar pukul 07.36 Wita. “Dari dulu begitu,” kata seorang tokoh di sana. “Kami ikut hitungan yang diajarkan tuan guru H. Fandi (H. Afandi bin Ibrahim),” tuturnya kepada Garda Asakota.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dalam shalat Id tahun 1447 Hijriah, bertindak sebagai Imam, M. Sidik, S. Sos dan Khatib, M. Tayeb, S. Sos. Adapun point penting khutbah yang disampaikan yakni tentang berbuat baik kepada orang tua, keimanan, dan tentang kesabaran.
Perbedaan hari raya bukan hal baru di Bima. Tahun ini, karena sebagian ormas dan pemerintah menetapkan Jumat atau Sabtu, keputusan Ntobo untuk hari raya pada Kamis ini menimbulkan tanya di kalangan lainnya. Namun bagi warga Ntobo, ini soal konsistensi, awal puasa dimajukan, maka akhir Ramadhan juga lebih cepat.
Di sela perbedaan itu, suasana hari raya tetap sama, mereka bermaaf-maafan, rumah terbuka, anak-anak menagih haglah (uang pecahan kecil), sebuah tradisi khusus bagi anak anak usai lebaran.
Pimpinan Ponpes Darul Ulumi Wal Amal Kelurahan Ntobo, H. Afandi bin Ibrahim berpesan kepada para jamaah agar tetap menghormati dan menghargai saudara saudara sesama muslim lainnya yang saat ini masih berpuasa. (GA. 212*)






















