Gardaasakota.com.- Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, resmi ditetapkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026. Penetapan tersebut diputuskan oleh dewan juri setelah melalui proses penjurian yang ketat dan berlapis, mulai dari seleksi proposal hingga presentasi akhir yang berakhir pada Jumat malam, 9 Januari 2026.
Dalam keputusan resminya, dewan juri menyatakan bahwa dari sepuluh kepala daerah yang masuk tahap nominasi, Wali Kota Mataram dinilai paling unggul. Penilaian dilakukan berdasarkan berbagai aspek, di antaranya proposal kebudayaan, video pendukung, peraturan daerah tentang kebudayaan, pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah, dokumentasi kegiatan, serta rekam jejak pemberitaan media. Melalui proposal bertajuk “Gerbang Sangkareang”, Mohan Roliskana dinyatakan berhak menerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Tahun 2026. Penghargaan ini dijadwalkan akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari 2026.
Ketua Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat sekaligus Direktur Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menjelaskan bahwa proses penjaringan telah berlangsung selama sekitar dua bulan dan menghasilkan sepuluh nominator, terdiri dari tiga wali kota dan tujuh bupati dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, mayoritas nominator merupakan kepala daerah dengan usia relatif muda, yang menunjukkan semangat dan kepedulian generasi pemimpin daerah terhadap kebudayaan.
Yusuf menegaskan bahwa seluruh tahapan penjurian dilakukan secara serius, profesional, dan transparan dengan melibatkan juri-juri yang memiliki kompetensi di bidang seni dan kebudayaan. Ia juga membantah keras anggapan bahwa anugerah tersebut disertai pungutan biaya. Menurutnya, kualitas proposal dan presentasi para nominator justru menjadi bukti bahwa penghargaan ini murni berdasarkan penilaian substansi dan gagasan kebudayaan.
Dalam proses presentasi, dewan juri juga menghadapi situasi-situasi kemanusiaan yang mengharukan. Beberapa kepala daerah terpaksa mengikuti penilaian melalui konferensi daring karena alasan mendesak, mulai dari musibah keluarga hingga penanganan bencana di daerah. Meski demikian, Yusuf memastikan bahwa empati kemanusiaan tidak mengurangi profesionalisme juri dalam memberikan penilaian secara objektif.
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, sendiri melakukan presentasi langsung di hadapan dewan juri pada Jumat siang, 9 Januari 2026, di kantor PWI Pusat, Gedung Dewan Pers, Jakarta. Dalam paparannya, Mohan menjelaskan bahwa Kota Mataram merupakan kota yang heterogen, dihuni oleh berbagai suku yang hidup rukun dan harmonis, terbuka terhadap kemajuan dan teknologi, namun tetap berkomitmen kuat dalam menjaga serta melestarikan budaya dan sejarah.
Ia menyoroti Gerbang Sangkareang sebagai simbol transformasi budaya Kota Mataram. Dibangun dan diresmikan pada tahun 2022, Gerbang Sangkareang terinspirasi dari bentuk lumbung padi masyarakat Sasak yang melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, rasa syukur, pengendalian diri, serta semangat berbagi dan gotong royong. Nama “Sangkareang” sendiri diambil dari nama puncak gunung tertinggi kedua di Pulau Lombok, yang sarat dengan makna geografis dan filosofis.
Menurut Mohan, Gerbang Sangkareang tidak berhenti sebagai simbol fisik, melainkan berkembang menjadi katalisator terbentuknya ekosistem budaya dan ekonomi baru di Kota Mataram. Dari konsep tersebut lahir berbagai turunan budaya, seperti Batik Mentaram, pengembangan arsitektur kota, hingga produk-produk kerajinan lokal. Bahkan, aksesori yang dikenakannya saat presentasi merupakan hasil kreativitas pengrajin lokal yang terinspirasi dari Gerbang Sangkareang.
Ia juga mengungkapkan bahwa Batik Mentaram telah menembus panggung internasional dengan tampil di Bellabric dan Melbourne, Australia. Melalui karya para pengrajin lokal, Batik Mentaram dinilai mampu memperkuat identitas budaya daerah yang elegan, adaptif, dan kompetitif di tingkat global. Dampak lainnya adalah terciptanya nilai tambah ekonomi, terbukanya lapangan kerja, peningkatan pelaku UMKM, serta penguatan citra dan identitas Kota Mataram secara berkelanjutan.
Selain Mohan Roliskana, presentasi juga diikuti oleh sejumlah kepala daerah lain, baik secara langsung maupun daring, di antaranya Wali Kota Malang, Wali Kota Samarinda, serta beberapa bupati dari Lampung Utara, Temanggung, Manggarai, Blora, Labuhanbatu, Manokwari, dan Padang Pariaman.
Adapun Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI-HPN 2026 berjumlah lima orang, yang terdiri dari unsur internal dan eksternal PWI Pusat, yakni Dr. Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, Sudjiwo Tejo, Akhmad Munir, dan Yusuf Susilo Hartono. Dengan latar belakang dan keahlian yang beragam, dewan juri menilai bahwa kepemimpinan dan gagasan kebudayaan Mohan Roliskana layak diapresiasi sebagai contoh praktik baik pembangunan berbasis budaya di tingkat daerah. (*)

















