Seutas Benang, Jembatan Dunia: Wagub NTB Resmikan Pameran Kain sebagai Diplomasi Budaya dan Identitas Daerah

Gardaasakota.com.-Seutas benang kecil yang dirangkai dengan kesabaran dan nilai kearifan lokal mampu menjelma menjadi bahasa universal yang menjembatani peradaban. Gagasan inilah yang mengemuka saat Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj. Indah Dhamayanti Putri, M.IP., membuka secara resmi Pameran Temporer Museum Negeri NTB Tahun 2025 bertema “Kain dan Diplomasi Budaya: Seutas Benang Kecil dapat menjadi jembatan antara dunia yang berbeda” di Museum Negeri NTB, Mataram, Rabu (10/12/2025).

Pameran yang berlangsung hingga 24 Januari 2025 tersebut menghadirkan beragam koleksi kain tradisional dan narasi budaya yang merefleksikan identitas masyarakat NTB sekaligus jejak diplomasi budaya yang telah dibangun hingga ke panggung internasional. Lebih dari sekadar menampilkan artefak tekstil, pameran ini dirancang sebagai ruang refleksi tentang bagaimana kain, sebagai produk budaya, menyimpan pesan sejarah, nilai spiritual, serta relasi sosial lintas generasi dan lintas bangsa.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur yang akrab disapa Umi Dinda menegaskan bahwa pameran ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga mengajak masyarakat merayakan identitas dan persahabatan antarbudaya. Ia menekankan pentingnya peran generasi masa kini dalam mempelajari, memahami, dan merawat kekayaan budaya daerah sebagai warisan tak ternilai bagi masa depan.

Menurutnya, budaya merupakan bahasa universal yang mampu menembus sekat perbedaan, dan kain menjadi salah satu medium diplomasi yang paling halus namun kuat. Melalui motif, warna, dan teknik pengerjaan, kain merepresentasikan identitas kolektif sekaligus menyampaikan pesan perdamaian dan keterbukaan kepada dunia. Pameran ini, lanjutnya, menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan instrumen aktif dalam membangun dialog antarperadaban.

Wagub NTB juga memberikan apresiasi kepada jajaran Museum Negeri NTB atas inisiatif menghadirkan pameran dengan pendekatan kekinian. Ia mendorong museum untuk terus bertransformasi menjadi ruang interaktif yang relevan dengan generasi muda, bukan lagi sekadar tempat menyimpan benda-benda lama, tetapi pusat pembelajaran budaya yang hidup, kreatif, dan dekat dengan masyarakat.

Dalam konteks penguatan ekosistem budaya, Umi Dinda menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Dekranasda NTB dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan agenda-agenda budaya yang berkelanjutan, meningkatkan kunjungan museum, serta menumbuhkan rasa memiliki dan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya NTB.

Ketua Dekranasda NTB, Sinta M. Iqbal, dalam kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa pameran ini lahir melalui proses panjang dan kerja kolektif banyak pihak. Ia menyoroti kompleksitas dan ketekunan dalam proses pembuatan kain tenun NTB, khususnya tenun Sumbawa, yang dikerjakan dengan teknik rumit namun sarat makna dan cinta terhadap tradisi.

Sinta juga mengapresiasi upaya Museum NTB dalam membawa motif-motif lokal NTB ke panggung internasional. Ia menyebut keberhasilan motif NTB mendapat apresiasi di Jeddah sebagai bukti bahwa kekayaan budaya daerah memiliki daya saing global. Menurutnya, pencapaian tersebut seharusnya menjadi pemantik kebanggaan sekaligus ajakan bagi masyarakat NTB, khususnya generasi muda, untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budayanya sendiri.

Pada kesempatan tersebut, Wagub NTB bersama Ketua Dekranasda NTB juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Festival Museum Desa NTB. Museum Desa Genggelang meraih juara pertama, disusul Museum Desa Gegelang sebagai juara kedua, dan Museum Desa Sakra di posisi ketiga. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas peran aktif masyarakat desa dalam menjaga, mengelola, dan menampilkan jejak sejarah serta budaya lokal.

Sementara itu, Kepala Museum Negeri NTB, Nur Alam, S.H., M.H., menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hasil kolaborasi lintas institusi, melibatkan Museum Daerah Sumbawa, museum desa di Lombok, serta Sekolah Luar Biasa di Lombok Barat dan Tanjung. Pameran ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun NTB, sekaligus ruang refleksi atas nilai spiritual yang terkandung dalam seutas benang kecil yang membangun peradaban masyarakat NTB.

Ia menambahkan bahwa Museum NTB telah menjalankan visi “Mendunia” melalui partisipasi dalam pameran internasional di Jeddah dan undangan pameran di Australia pada Mei mendatang. Seluruh capaian tersebut, menurutnya, merupakan hasil kerja keras dan dedikasi tim museum dalam memposisikan budaya NTB sebagai bagian dari percakapan global.

Dengan pendekatan naratif yang kuat dan kolaboratif, pameran “Kain dan Diplomasi Budaya” tidak hanya menampilkan keindahan tekstil tradisional, tetapi juga menegaskan peran budaya sebagai kekuatan lunak yang mempertemukan identitas lokal dengan dunia, serta mengukuhkan museum sebagai ruang strategis dalam membangun kebanggaan dan kesadaran budaya masyarakat NTB. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page