Blog  

Kabid Ini Tiba Tiba Didemosi Walikota Bima, Seluruh Staf Menangis Terharu

 

Abdul Haris, saat ijin pamit dari kantor Disnaker Kota Bima dengan para stafnya, Selasa pagi (26/9/2023).


Kota Bima, Garda Asakota.-

Rasa haru, sedih dan kecewa seluruh pejabat dan staf di Dinas Tenaga Kerja Kota Bima campur aduk mewarnai proses apel pagi ini, Selasa, 26/9/2023. 

Betapa tidak salah satu pejabat kesayanganya Abdul Haris, SE. M.Si, yang biasa di kenal dengan Haris Dinata Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja didemosi menjadi salah satu staf di Sekretariat DPRD Kota Bima melalui kebijakan Walikota Bima, Muhammad Lutfi, sehari sebelum berakhir masa jabatannya sebagai Walikota Bima. 

Dalam pidato perpisahannya, Selasa pagi (26/9/2023) Haris mengaku, sadar resiko terburuk apa yang akan terjadi pada dirinnya yaitu Nonjob atau Demosi, diturunkan jabatan. Namun demi perjuangan melawan kezoliman dirinya siap hadapi. 

“Ini semua adalah kosekwensi dalam melawan kezoliman dan ketidak adilan di dalam proses seleksi pejabat eselon 2 di Kota Bima tercinta ini,” ungkapnya di kantor Disnaker Kota Bima.

Tonton vidionya……

Harapannya, kebijakan semacam ini tidak terulang lagi. Haris mengaku telah 9 kali ikut tes JPT, namun selalu saja ada titipan nama yang ingin dimenangkan. “Sebelum di tes kita sudah tahu siapa yang akan dilantik”, jelasnya. 

Diakuinya, fenomena ini dari dulu selalu saja berulang-ulang. Kita kira di ujung masa jabatanya ini Walikota melakukan perubahan seperti yang beliau gaung-gaungkan, ternyata itu semua hayalan. “Nyatanya sebelum di tes sudah muncul duluan nama orang yang dilantik” cetusnya. 

Bagi dirinya silahkan saja kepala daerah mengambil diantar siapapun yang nomor urut 1, 2 dan 3 tapi tolong jangan mencederai proses Pansel ini. “Jangan diperintahkan ketua Pansel unutk menaikan nilai orang yang diinginkan, tegasnya. 

Harapannya kejadian seperti ini tidak terulangi lagi di masa-masa mendatang. Biarkan saja dirinya yang jadi korban terakhir, sejarah mencatat bahwa loyalitas dan tunduk pada atasan itu bukan nurut dan mengikuti semua kebohongan dan kedzoliman. “Namun kita pun boleh menolak bila ada ketidak adilan yang muncul,” egasnya. (GA. 212*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *