Siap Berebut Tiket ke Senayan, Ini Profil Bacaleg DPR RI Partai Gelora Dapil Pulau Sumbawa, H Yadi Surya Diputra

 

Bacaleg DPR RI dari Partai Gelora, H Yadi Surya Diputra.


Mataram, Garda Asakota.-


 

Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2024 tinggal beberapa
bulan lagi. Saatnya rakyat memilih para wakil mereka yang tepat dan cakap untuk
menyuarakan apa yang menjadi aspirasi mereka digedung parlemen.


 

Salah satu Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) DPR RI yang akan
merebut tiket ke Senayan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Barat
(NTB) 1 Pulau Sumbawa adalah H. Yadi Surya Diputra, S.Sos.I, MA.


 

H Yadi Surya Diputra atau akrab disapa Suryo, adalah Bacaleg
dari Partai Gelora yang punya sejuta pengalaman hebat seperti pernah menjabat
sebagai Tenaga Ahli Anggota DPR RI, Drs H Harun Al-Rasyid, yang juga mantan Gubernur
NTB.  Serta mantan tenaga ahli macan
senayan yakni bapak Fahri Hamzah.


 

Seperti apa profil dari H Yadi Surya Diputra?, berikut
ulasannya.

 

H. Yadi Surya Diputra, S.Sos.I, MA, menghabiskan masa
mudanya dari Pesantren ke Pesantren, menjajal bangku belajar di Jogjakarta dan
Taiwan. Hari hari dalam hidupnya dihabiskan dengan menziarahi tempat-tempat
bersejarah yang suci dan jauh: dari Samarkand dan Kasablanka, negeri para Wali
di Uzbekistan dan Maroko. Menjelajah tiap jengkal tanah Yordania negeri para
Nabi hingga ke Laut Mati dekat Tepi Barat Palestina. Menziarahi Kazakstan dan
Tajikistan negeri para Ilmuan dan Saintis Islam. Menikmati buku buku koleksi
perpustakaan Timbuktu di Mali Afrika. Mendalami mazhab Ibadi di Muskat Oman dan
jejak kajayaan Khilafah di Turki. Menapak tilasi jejak ulama Sumbawa Dea Malela
di Tanjung Pengharapan Afrika Selatan.


 

Larut dalam kehidupan kota para filosof dan ilmuan sosial di
Prancis dan Jerman. Menyelami sejarah nusantara tempo dulu di Amsterdam Belanda
dan Brussel Belgia. Mengintimasi jejak literasi peradaban demokrasi di Amerika
Serikat dan Genewa Swiss. Melakukan studi penyelengaraan Pemilu di Rio De
Janeiro dan Brazilia Brazil. Berselancar ke Ashram-Ashram di India dan
Kuil-Kuil di Jepang. Menginjakan kaki di bagian ujung utara Bumi, Kota Budaya
Saint Petersburg Rusia dan bagian ujung selatan Bumi, Wellington dan Auckland
di New Zealand. Hingga mengkhidmati jejak masa silam yang agung di Athena
Yunani.


 

Yadi, demikian nama panggilan masa kecilnya yang ketika
kuliah memilih menggunakan nama pena Poetra Adi Soerjo. Yah, dia lebih umum
dikenal dengan nama Suryo. Ia menggunakan nama pena untuk menyamarkan identitas
dalam menulis mengikuti jejak para penulis penulis besar seperti seperti Eric
Arthur Blair, yang lebih dikenal dengan nama George Orwell. Atau Douwes Dekker
yang dikenal dengan nama Multatuli. Atau Henri Hendrayana Harris yang justru
terkenal dengan nama Gol A Gong. Tere Liye yang bernama asli Darwis dan atau
Andrea Hirata yang bernama asli Aqil Barraq Badruddin. Nama pena Poetra Adi
Soerjo ia gunakan selain karena nama tersebut hanya otak atik dari nama aslinya
juga karena ia sangat mengidolakan Tirto Adi Soerjo yang oleh Pramudya Anantatour
disebut sebagai Sang Pemula.


 

Yadi adalah putra asli Sumbawa yang berasal dari Karang
Seketeng Sumbawa. Lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai Guru dan Guru
Ngaji di kampungnya, Yadi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat agamis.
Ibunya bernama Rahmawaty, biasa dipanggil dengan nama Ibu Imok adalah seorang
Guru Ngaji sekaligus Guru yang sangat lama mengabdi di SDN 12 Sumbawa Besar.
Sementara ayahnya bernama Abdul Gani adalah pegawai Departemen Agama yang
diperbantukan menjadi Kepala Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al Muttaqin Sumbawa
hingga pensiun sebagai Pengawas Pendidikan Agama Islam MI di Kecamatan Batu
Lante. Jika berbicara pulang kampung, maka Yadi kecil pulang ke kampung Ayah
dan Ibunya tempat keluarga besarnya berada. Ayahnya berasal dari Desa Batu
Tering Kecamatan Moyo Hulu dan Ibunya dari Desa Pernek dan Lenangguar Sumbawa.


 

Yadi menghabiskan studi SD nya di sekolah sang Ibu yaitu SDN
12 Sumbawa Besar. Setelah tamat SD ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Al
Ikhlas Taliwang, yang meskipun tak tamat, ia dipercaya menjadi Ketua Bidang
Kerjasama Pengurus Pusat Ikatan Alumni Pesantren Al Ikhlas (IKPI), Taliwang,
Sumbawa Barat. Selepas mondok ia melanjutkan pendidikan di MTSn Sumbawa Besar
dan SMA di SMUN 1 Sumbawa Besar. Masa kuliah ia habiskan di Jogjakarta. Sembari
mondok di Pesantren Mahasiswa Minhajul Muslim Sapen, ia menempuh kuliah di dua
tempat sekaligus. Yaitu IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan menjadi mahasiswa
jalur Pemilihan Bibit Unggul Daerah (PBUD) di Jurusan Teknik Pertambangan UPN
Veteran Yogyakarta. Tanpa jeda ia langsung melanjutkan studi S2 di Magister
Ilmu Politik dan Pemerintahan Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah
Universitas Gajah Mada Yogyakarta.


 

Selepas kuliah S2 di UGM, dengan hasil studi akhir Cumlaude,
Yadi mendaftar sebagai Tenaga Ahli Komisi II DPR RI dan dinayatakan lulus
setelah mengikuti berbagai test di Universitas Indonesia Jakarta. Inilah awal
karirnya menjelajah dunia. Ia ditempatkan sebagai Tenaga Ahli Pribadi Ketua
Komisi II DPR RI yang kala itu dijabat oleh Bapak Burhanudin Napitupulu seorang
politisi senior Partai Golkar. Karena Bapak Burhanuddin Napitupulu meninggal
dunia pada awal 2010, maka ia ditempatkan sebagai Tenaga Ahli Pimpinan Komisi
II DPR RI yang kala itu dijabat oleh Ganjar Pranowo dari PDIP, Teguh Juwarno
dari PAN, Taufiq Efendy Mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dari Partai
Demokrat, dan Chairuman Harahap dari Partai Golkar.


 

Karirnya sebagai tenaga Ahli DPR RI terus berlanjut dengan 4
tahun menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Bapak Drs. H.
Harun Alrasyid Mantan Gubernur NTB dan 6 tahun menjadi Tenaga Ahli Macan
Senayan Bapak H. Fahri Hamzah, hingga puncaknya menjadi Staf Khusus Pimpinan
DPR RI dengan jabatan setara eselon 1 B. selama di Senayan inilah Yadi banyak
menghabiskan waktu untuk mengembangkan diri dengan berziarah ke berbagai tempat
suci yang jauh. Hingga menempuh studi diplomasi di Institute of Diplomacy and
International Affairs Ministry of Foregn Affairs Taiwan dalam program 2015
Taiwan Study Camp For Future Leaders: Southeast Asia And South Asia.


 

Dalam karirnya selain terus tampak berada di lingkaran sang
Macan Senayan Fahri Hamzah. Yadi juga tampak selalu berada di lingkaran Prof
Din Syamsuddin. Bersama Prof Din Syamsuddin ia ikut menggawangi berdirinya
Pesantren Internasional Dea Malela di Pamangong Sumbawa Besar, di mana Prof Din
kala itu mempercayainya sebagai Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Pendidikan dan
Kebudayaan Dea Malela yang kini sudah berubah menjadi Yayasan Wakaf.

 


Tentang, Perjuangan mendirikan Propinsi Pulau Sumbawa (PPS)
sebagai sebuah Provinsi pemekaran, H. Yadi Surya Diputra (Suryo) adalah salah
satu tokoh muda yang berada di balik rencana tersebut, dan terus menggulingkan
rencana besar tersebut sampai dengan saat ini.


 

Demikianlah sekilas profil dan perjalanan hidup H. Yadi
Surya Diputra, S.Sos.I., MA anak kampung dari Sumbawa yang banyak meniti karir
di Jakarta. Ia kaya pengalaman dan jaringan di pusat ibu kota Jakarta tempat di
mana seluruh kebijakan yang mengatur hajat hidup orang banyak dilahirkan. Yadi
di antaranya pernah menjadi tim asistensi perumusan UU Kearsipan 2009, UU ASN
2014, UU Administrasi Pemerintahan 2014, UU Pemda 2014, UU MD3 2014, dll.


 

Dengan sejuta pengalaman dan jaringan tersebut, kini Yadi
berikhtiar untuk maju menjadi Calon Anggota DPR RI dari Partai Gelora Dapil
Pulau Sumbawa. Motivasi utamanya menuju senayan adalah memegang amanah Kyai nya
yang akrab disapa Buya Dr.K.H. Zulkifli Muhadli. Sang Kyai berpesan kepada
seluruh anak didiknya “jadilah manusia yang paling banyak bermanfaat bagi
banyak manusia”. Bagi Yadi, Politik adalah ladang amal terbesar kita, dan
kekuasaan adalah jalan tercepat dalam menggapainya. Jika kita menjadi orang
kaya, paling mampu mensekolahkan 10 anak anak. Tapi jika kekuasaan di tangan,
cukup dengan satu tanda tangan ribuan orang bisa menempu pendidikan.

 


Dengan tagline
“Muda, Cerdas dan Berani” Yadi optimis menyibak takdir menempuh
ikhtiarnya menjadi Anggota DPR RI. “Ini adalah usia kematangan saya, di umur
40 tahun nabi mendapat risalah merubah dunia. Dan inilah saya kini berusia 40
tahun, harus berani mengambil langkah memikul beban dan melanjutkan risalah
kenabian”, demikian ucapnya.

 

Kepada para pemilihnya di Pulau Sumbawa, Yadi menyampaikan:


“Bagi yang merasa negara kita hari ini sedang baik baik
saja, kehidupan ekonomi aman-aman saja, keuangan keluarga tak bermasalah, anak-anak
kita mudah dapat kerja, maka pertahankan keadaan itu, JANGAN PILIH SAYA!!!


Tapi jika justru faktanya sebaliknya, maka kirim saya ke
Senayan. AKAN SAYA GUNCANG BUMI DAN LANGIT JAKARTA, seperti Gunung Tambora
mengguncang dunia.” (GA. Im*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *