Blog  

212 Wifi Kobi Hanya Program Populis Asal Jadi, Rangga Babuju: Buang Buang Anggaran

 

Julhaidin, Pengelola E-Commerce NTB

Kota Bima, Garda Asakota.-

Pemasangan Wifi utk RW se Kota Bima sebanyak 212 titik menunai kritikan banyak pihak. Bagaimana tidak, project yang sudah menghabiskan anggaran sebanyak Rp1,3 Miliar per tahun itu selain dinilai politis juga dianggap hanya buang buang anggaran saja. 

Bukankah, anggaran sebanyak itu bisa digunakan untuk menangani sampah-sampah di Kota Bima, pengadaan jaringan air bersih, perbaikan gang gang/jalan rusak atau untuk memperbaiki perumahan Kadole dan Oi Fo’o?. 

“Coba anggaran ini dialihkan untuk gang yang masih rusak,” sentil netizen Amala Alfian menanggapi program yang sudah di launching oleh Walikota Bima HM. Lutfi, Jum’at kemarin (3/2/2023). 

Netizen lainnya, Bang Bram Solud juga mempertanyakan apakah pemasangan WiFI ini ada dalam dokumen RPJMD tahun 2023?, sebagaimana penting atau berapa sih skor skala prioritasnya sehingga diwujudkan pemasangan WiFI ini.?

“Mending uangnya dipakai buat kegiatan peningkatan kapasitas RW dan RT, karena RW dan RT yang baru, saya yakin belum mendapatkan pelatihan bagaimana menjadi RT atau RW,” usulnya.

Bukan hanya para netizen, Pengelola E-Commerce NTB, Julhaidin pun angkat bicara.

Menurutnya, nasi terlanjur menjadi bubur. DIPA telah diketuk dan diinput, tetapi oleh Kepala Daerah melalui SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah), seharusnya bisa saja mengubahnya dalam bentuk lain di program yang sama. 

“Dari ‘Program Wifi tiap RW’ menjadi ‘Program Wifi Publik’. Toch sama-sama akan digunakan oleh Publik,” sorot Julhaedin, kepada Garda Asakota, Sabtu pagi (4/2/2023). 

Pria yang lebih populer disapa Rangga Babuju ini justru mempertanyakan urgensi pemasangan WiFI bagi RW di Era Android saat ini yang malah dinilainya akan membuat masalah baru. 

Salah satunya adalah jangkauan Wifi tentunya tidak akan lebih dari 25 meter ke segala arah. 

“Tidak semua rumah RW punya barugak tempat orang akan berkerumunan menggunakan Wifi. Dan malah dikhawatirkan akan menjadi fasilitas personal RW dan tetangganya saja,” ujarnya. 

Jika saja jarigan WiFI itu menjadi Wifi Publik yang dipasang di Terminal Dara, Lapangan Seraruba, Lapangan Pahlawan, Pantai Kolo, Pantai Lawata, Taman Amahami, Taman Ria, Lapangan Manggemaci, Lapangan Kodo, Puncak Jatiwangi, dan areal publik lainnya, manfaatnya akan jauh lebih besar. 

“Tentu, anak-anak muda maupun remaja akan memenuhi areal publik tersebut,” katanya.

Jika areal publik dengan daya tarik Wifi terpasang dengan tepat pada areal areal yang dimaksud, maka akan menarik minat orang untuk duduk nongkrong santai, maka omset ekonomi mikro dari pada para pedagang sekitar akan meningkat, ekonomi jalan, warga bahagia, zona publik menjadi ramai dan berdampak lahirnya zona ekonomi baru. 

Koneksikan Areal Wifi Publik itu dengan CCTV yang akan terhubung dengan pusat kendali ‘Smart City’. 

“Pantau 24 jam, jika perlu, bukan akses langsung dengan sistim Online pengendali di Polresta Bima. 

Agar kegiatan dan aktifitas warga terkontrol dengan baik dan jika terjadi tindak pidana pada areal tersebut, bisa segera ditindak segera,” katanya.  

Ia menyarankan Pemkot Bima agar mencontohi Kota Jogyakarta, yang memasang 356 Wifi publik gratis di zona publik dan zona hijau. 

Di sana, kata dia, para wisatawan lebih enjoy duduk di tengah kota, mahasiswa kerja tugas di areal publik, para pedagang kaki lima raup rejeki, tukang parkir pemerintah setor PAD, warga menjadi lebih bahagia. 

“Wifi yg di Kota Bima ini, Program Populis asal jadi, buang buang anggaran saja. Tidak melalui proses analisa kebutuhan publik, tidak membaca kecenderungan penerima manfaat,” sorotnya.

Jauh dari itu, sambungnya dalam setahun kedepan menjadi terbengkalai, lalu tiba-tiba diklaim hak milik pak RW yang nota bene akan membayar tagihan tiap bulan setelah Rp6,2 juta habis terpakai. 

Secara Politis, tidak akan sampai pada 2024. Secara ekonomi, tidak akan mendorong peningkatan ekonomi, secara sosiologis, malah akan mendulang konflik karena gaduh antar RT. Dan secara Digitalisasi program, tidak memiliki nilai tambah bagi ‘smart city’. 

“Yang akan tongkrongin rumah pak RW tempat Wifi ini dipasang adalah anak-anak, jika bukan main PUBG yach Tik Tok atau IG. Selebihnya omong kosong yang mendidik,” pungkas Rangga. (GA. 212*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *