Blog  

Sosialisasi Gernas Penanganan Dampak El Nino, Mentan SYL Kunjungi NTB

 

Mentan RI, SYL, saat mengunjungi NTB pada Sabtu 12 Agustus 2023. 

Mataram, Garda Asakota.-



Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian RI mencetuskan
adanya Gerakan Nasional (Gernas) Penanganan Dampak El Nino.



Dalam rangka melakukan sosialisasi terhadap Gernas
Penanganan Dampak El Nino, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL)
meninjau penanaman padi sebagai salah satu Gernas Penanganan Dampak El Nino di
Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu 12 Agustus 2023.



Berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional (BPN), luas
tanam setahun se-Kota Mataram adalah 3.493 ha dan luas baku sawah 1.472 ha
dengan komoditas padi. Perkiraan luas panen padi periode Januari-September
2.008 ha dan perkiraan produksi 13.107 ton GKG.



Mentan SYL menyebutkan Kementan menyiapkan sejumlah
upaya dalam mengantisipasi dan adaptasi dampak el nino, yakni identifikasi dan
mapping lokasi terdampak kekeringan, serta mengelompokkan menjadi daerah merah,
kuning dan hijau.



Karenanya, ia meminta kepada seluruh jajaran pemerintah daerah
untuk segera mendata wilayah-wilayah yang rawan terdampak el nino. Selain itu,
harus juga dilakukan percepatan tanam guna mengejar sisa hujan dan peningkatan
ketersediaan alsintan untuk percepatan tanam.



“Kemudian peningkatan ketersediaan air dengan membangun atau
memperbaiki embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, rehabilitasi
jaringan irigasi tersier dan pompanisasi,” kata Mentan SYL pada kegiatan
tersebut.



“Kita melawan el nino ini juga dengan penyediaan benih tahan
kekeringan dan hama penyakit, program 1.000 hektar adaptasi iklim, pengembangan
pupuk organik, dukungan pembiayaan KUR dan Asuransi Pertanian, serta penyiapan
lumbung pangan sampai level desa,” sambungnya.



Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun)
Provinsi NTB, Muhammad Taufieq Hidayat mengatakan, pihaknya terus berupaya
meningkatkan hasil panen serta mengantisipasi dampak iklim el nino. “Semoga
dampaknya tidak terlalu terasa di wilayah kami,” ujarnya.



Selain NTB, Gernas Penanganan Dampak El Nino juga digelar di
sejumlah provinsi lainnya selama periode Agustus-Oktober 2023. Kementerian
Pertanian (Kementan) menargetkan lokasi Gernas El Nino dilaksanakan di lahan
seluas 500.000 hektar (ha) di 10 provinsi yang terdiri dari 6 provinsi utama
dan 4 provinsi pendukung.



Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi
menyampaikan bahwa Gernas El Nino di NTB ini diarahkan pada lahan potensial
untuk meningkatkan indek pertanaman padi dengan padi genjah dan tahan
kekeringan. NTB yang dikenal dengan bumi gora (bumi gogo rancah) bertanam padi
selain di lahan sawah, juga dikembangkan di lahan kering.



“Budidaya tumpangsari dan pertanian terpadu sudah berkembang di
petani,” sebutnya.



Suwandi berharap petani bisa melakukan efisiensi biaya dan
menggunakan input dari bahan organik dan alami sehingga ramah lingkungan. Ini
sebagai perwujudkan dari prinsip pertanian berkelanjutan.



“Tadi Bapak Menteri memimpin langsung pembuatan biosaka dan
diikuti oleh berbagai pihak cukup meriah. Biosaka ini adalah hal yang baru,
bukan pupuk dan bukan pestisida, tetapi elisitor yang bermanfaat bagi lahan dan
pertanaman untuk tumbuh dan berproduksi, diharapkan biosaka ini segera menyebar
ke seluruh petani, dipraktekkan dan menikmati manfaatnya,” jelas Suwandi.



Tak hanya menanam padi, kunjungan Mentan SYL di Kota Mataram juga
dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lokasi pengolahan hasil sorgum di
Tabeta Sorgum – Selagalas. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *