Blog  

Volunteer: Cara Kontribusi Generasi Emas 2045 Terhadap Zakat

 

Oleh: Azyumardi Mumtazul Umam

“Pemuda adalah harapan bangsa. Mereka memiliki energi, semangat, dan keberanian untuk mengubah dunia.” -Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia. 



Kata-kata tersebut menggugah kesadaran akan peran penting kontribusi pemuda dalam memajukan masyarakat. Apalagi, di tengah kompleksitas tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi Indonesia, contohnya zakat, yang telah menjadi instrumen kuat dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. 



Namun, implementasi dan pengelolaan zakat masih menghadapi tantangan, seperti minimnya kesadaran masyarakat, kurangnya transparansi, dan penyaluran yang tidak effisien.



Sebagai penulis essai ini, yang berasal dari kalangan pemuda, saya tidak mau kalah dengan pemuda dari negara-negara lain. 



Dalam hal ini, saya menyadari betul ternyata pemikiran tidak mau kalah itulah yang menjadi kekuatan diri saya. Namun, saya menyadari bahwa semangat dan keberanian perlu didukung dengan ketekunan agar dapat merealisasikan keinginan saya untuk tidak kalah. 



Selanjutnya, saya menyadari bahwa semangat perlu diimbangi dengan ketekunan dan jiwa kepemimpinan untuk menciptakan perubahan jangka panjang, seperti yang ditegaskan oleh Ralph Waldo Emerson bahwa ‘Semangat tanpa ketekunan hanyalah potensi terbuang. Kombinasikan keduanya, dan kamu akan menciptakan keajaiban’.”



Selain memiliki perasaan semangat dan keberanian, pemuda juga harus memiliki tujuan dan rencana yang jelas kedepannya sebagai generasi emas 2045 yang akan datang. 



Dari situlah saya mulai terlibat dalam kegiatan Volunteer sebagai pengenalan awal terhadap kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini diminati oleh pemuda karena menawarkan manfaat yang relevan bagi mereka, seperti pengalaman berharga untuk CV dan kesempatan untuk memperluas jaringan.



Setelah terjun langsung di masyarakat, ternyata masalah kemiskinan adalah evaluasi bagi bangsa ini untuk mencari instrumen yang tepat dalam menurunkan angka kemiskinan. 



Hal ini tercermin dari angka kemiskinan saat ini yang mencapai 14% dari total jumlah penduduk di Indonesia, setara dengan sekitar 30 juta penduduk yang hidup dalam kondisi miskin. 



Dalam konteks ini, zakat menjadi salah satu instrumen yang dapat diandalkan dalam upaya memberantas kemiskinan. Dan juga dari hasil penelitian empiris menunjukkan bahwa zakat memberi dampak positif bagi pengurangan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Zakat telah menjadi instrumen yang kuat dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. 



Namun, implementasi dan pengelolaan zakat masih menghadapi tantangan, seperti minimnya kesadaran masyarakat, kurangnya transparansi, dan penyaluran yang tidak efisien.



Dalam konteks ini, diperlukan institusi penyelenggara kegiatan Volunteer yang fokus pada upaya pemberantasan kemiskinan di Indonesia melalui zakat. 



Penyelenggara dapat mengait SDGs no 1 yaitu No Poverty (Tanpa Kemiskinan) yang mana poin SDGs itu dapat difokuskan pada implementasi zakat yang dapat memberantas kemiskinan di Indonesia. 



Salah satu cara di mana volunteer dapat berperan adalah dengan meningkatkan pemahaman tentang zakat di kalangan masyarakat. Mereka dapat menyelenggarakan seminar, workshop, atau kampanye penyuluhan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya zakat dan cara melaksanakannya dengan benar.



Selain itu, volunteer juga dapat memainkan peran penting dalam pengumpulan dana zakat. Mereka dapat mengembangkan inisiatif kreatif dan teknologi yang inovatif untuk memfasilitasi pengumpulan dana secara efektif dan transparan.



Sebagai contoh, pemuda dapat mengembangkan aplikasi mobile yang memudahkan individu dalam menghitung, menyimpan, dan mendonasikan zakat. 



Dengan menggunakan teknologi, pengumpulan dana zakat dapat mencapai khalayak yang lebih luas, termasuk generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital. 



Menurut data dari Badan Amil Zakat Nasional, hanya sekitar 30% penduduk Indonesia yang membayar zakat secara teratur. Untuk meningkatkan partisipasi, peran volunteer dalam mengembangkan inovasi teknologi menjadi sangat penting.



Selain pemahaman dan pengumpulan dana, volunteer juga berperan dalam memastikan distribusi zakat yang adil dan tepat sasaran. Mereka dapat menjadi relawan di lembaga-lembaga zakat atau organisasi kemanusiaan yang bertanggung jawab atas distribusi zakat. 



Melalui partisipasi aktif, pemuda dapat memonitor dan memastikan bahwa zakat didistribusikan kepada yang berhak dengan cara yang efisien dan transparan. 



Studi menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai penggunaan zakat yang tidak tepat sasaran atau tidak efisien menjadi salah satu faktor rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap zakat. Melalui peran volunteer yang aktif, hal ini dapat diatasi, dan kepercayaan masyarakat terhadap zakat dapat ditingkatkan.



Dalam rangka memperkuat pengelolaan zakat di Indonesia, kegiatan volunteer memiliki peran penting sebagai duta zakat yang menghubungkan lembaga zakat, masyarakat, dan penerima manfaat. 



Keterlibatan volunteer dalam zakat dapat meningkatkan transparansi, efisiensi, dan keberlanjutan dalam pengelolaan dana zakat. Generasi emas 2045 memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam diplomasi zakat melalui partisipasi aktif sebagai volunteer, pengembangan teknologi yang inovatif, dan penggunaan keterampilan komunikasi yang kuat. 



Dengan kolaborasi antara lembaga zakat, masyarakat, dan generasi emas tahun 2024, kita dapat memperkuat pengelolaan zakat untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat yang membutuhkan. Mari bersama-sama menjadi volunteer, menjadi duta zakat, dan bersama-sama menciptakan perubahan positif melalui zakat.


*Penulis: Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *