Pawai Rimpu Mantika Dorong Perputaran Ekonomi Tembe Nggoli, Diperkirakan Tembus Rp12 Miliar

Kota Bima, Garda Asakota.-Pelaksanaan Pawai Rimpu Mantika 2026 yang melibatkan 86 ribu peserta terbukti bukan sekadar panggung budaya. Event yang masuk Kalender Event Nasional Kemenekraf RI itu memicu perputaran ekonomi lokal, terutama di sektor kerajinan tenun Tembe Nggoli atau sarung nggoli.

Tembe Nggoli jadi kebutuhan utama pawai karena melekat pada identitas busana Rimpu. Makanya, kata Dosen STIE Bima, Ismunandar, S.E, M.M, momentum budaya skala besar ini membuat permintaan sarung tenun khas Bima melonjak. “Peserta ingin tampil rapi, seragam, dan merepresentasikan marwah Dou Mbojo,” ungkapnya kepada Garda Asakota, Sabtu (25/4/2026).

Tentu tidak semua peserta membeli sarung baru. Sebagian sudah punya, meminjam dari keluarga, atau difasilitasi instansi dan komunitas. Karena itu, hitungan ekonomi perlu skenario proporsional.

Dengan pendekatan moderat, peserta yang membeli  Tembe Nggoli baru ditaksir 20-30% dari total 86 ribu orang. Artinya ada 17.200 hingga 25.800 pembeli baru.

Ambil angka tengah 25% atau 21.500 peserta. Dengan harga rata-rata Rp250.000 per lembar, omzet langsung dari sarung nggoli mencapai Rp5,38 miliar. “Itu baru dari kain. Belum hitung ongkos jahit, kapenta bros, dan jasa rias yang ikut laku,” katanya.

Pawai Rimpu juga menggerakkan sektor pendukung. Jika setiap peserta belanja tambahan Rp30.000-Rp75.000 untuk kuliner, transportasi, parkir, aksesoris, dan dokumentasi, maka ekonomi ikutan mencapai Rp2,58 miliar hingga Rp6,45 miliar.

“Total potensi perputaran ekonomi Pawai Rimpu Mantika 2026 dalam skenario moderat Rp8 miliar hingga Rp12 miliar dalam sehari,” bebernya.

Seperti apa yang dikatakan Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Rimpu kini memberi dampak positif hingga ke tingkat bawah. “Ini bukti event budaya bukan beban APBD. Rimpu adalah economic trigger,” ujarnya saat melepas pawai, Sabtu (25/4/2026).

Dari sisi ekonomi daerah, Pawai Rimpu jadi contoh nyata budaya menggerakkan UMKM. Tradisi Rimpu tidak hanya simbol identitas, tapi penggerak permintaan. Penenun, pedagang kain, pemasok benang, hingga penjahit kebanjiran order H-30 pawai.

Namun lonjakan permintaan harus diantisipasi. Jika kapasitas produksi pengrajin Bima terbatas, pasar rawan diisi produk luar atau tiruan yang tidak merepresentasikan nilai Tembe Nggoli.

Karena itu, kata dia, momentum Pawai Rimpu Mantika perlu dikelola strategis. Pemerintah daerah, UMKM, komunitas budaya, dan pengrajin perlu menjadikan ini agenda ekonomi tahunan yang terencana.

Langkahnya, pendataan pengrajin, penguatan sentra tenun di Renda-Ngali-Sambinae, ruang promosi resmi saat festival, katalog produk Tembe Nggoli, hingga pelatihan regenerasi penenun muda.

Dengan tata kelola tepat, Pawai Rimpu Mantika tidak hanya jadi perayaan tahunan. Ia bisa naik kelas jadi penggerak ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Memperkuat identitas, meningkatkan pendapatan warga, memperluas pasar tenun, dan menjadikan sarung nggoli produk budaya bernilai ekonomi tinggi.

Ekonomi boleh tumbuh dari festival. Tapi peradaban tumbuh ketika Maja Labo Dahu membuat kita malu tidak bela produk sendiri. (GA. 212*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page