Mataram, Garda Asakota.-Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, memastikan ruang kelas yang ambruk di SMA Negeri 7 Mataram akan segera mendapatkan revitalisasi. Saat melakukan kunjungan kerja ke sekolah tersebut, Jumat (22/5/2026), Ia menegaskan perbaikan tidak boleh berlarut karena menyangkut keselamatan siswa dan kesiapan sekolah menghadapi penerimaan murid baru.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan NTB 2 Pulau Lombok ini turun langsung meninjau ruang kelas yang ambruk sekaligus melihat persoalan infrastruktur pendidikan yang membelit sekolah tersebut.
Dari hasil peninjauan, pria yang akrab disapa Lalu Ari ini menilai kerusakan bangunan tidak lepas dari faktor usia gedung yang telah memasuki dua dekade penggunaan.
“Setelah kami melihat langsung, usia bangunan ini sekitar 20 tahun, dari 2006 sampai 2026. Artinya dari kesiapan dan struktur bangunan memang sudah waktunya direvitalisasi,” ujarnya.
Tak hanya menghadapi persoalan ruang kelas ambruk, SMA 7 Mataram juga dihadapkan pada persoalan lain berupa bangunan hasil proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024 yang hingga kini belum bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan karena kebutuhan ruang kelas di SMA 7 Mataram sangat mendesak.
“Kami meminta pemerintah daerah mencari solusi. Kalau ini berkaitan dengan aparat penegak hukum, silakan dibahas melalui Forkopimda Provinsi NTB. Jangan sampai gara-gara pekerjaan DAK 2024 yang mandek, yang menjadi korban justru siswa-siswi kita,” tegas politisi yang membidangi urusan pendidikan itu.
Ia mengungkapkan, bangunan yang belum dapat difungsikan tersebut mencapai sekitar 16 ruang kelas. Karena itu, pemerintah daerah diminta bergerak cepat agar fasilitas tersebut segera bisa dipakai.
Politisi yang juga Ketua DPW PKB NTB ini menyebut dirinya telah berdiskusi langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan NTB terkait langkah percepatan penyelesaian masalah tersebut. Bahkan, menurutnya, Gubernur NTB juga tengah mencari jalan keluar agar hambatan penggunaan bangunan segera teratasi.
Sementara untuk ruang kelas yang ambruk, Ia memastikan dirinya bersama Pemprov NTB akan mengusulkan program revitalisasi ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Saya jamin ini pasti akan mendapatkan revitalisasi, baik kelas yang ambruk maupun kelas di sebelahnya. Jangan sampai satu diperbaiki, ternyata bangunan lain ikut terdampak,” katanya.
Ia bahkan menargetkan proses percepatan segera dimulai tahun ini. Lalu Ari mengaku akan memanggil direktur jenderal terkait di kementerian guna mempercepat proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
“Insyaallah Selasa besok saya akan panggil Dirjen. Teman-teman di sini segera membuat perencanaan, mudah-mudahan bulan depan sudah mulai dieksekusi,” ujarnya.
Ia menegaskan, revitalisasi ruang kelas ambruk tidak terkendala persoalan hukum atau sengketa proyek, karena bangunan tersebut berbeda dengan gedung lain yang saat ini masih bermasalah.
“Yang ini saya cek tidak termasuk bangunan sengketa. Karena itu saya malah mendorong bulan depan harus mulai dibangun. Sebentar lagi kita memasuki SPMB dan menerima murid baru. Semua sarana prasarana harus siap,” tandasnya.
Di hadapan masyarakat dan wali murid, Hadrian juga berupaya memberikan ketenangan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan kondisi tersebut berlarut.
“Saya sampaikan kepada seluruh orang tua dan wali murid SMA 7, tidak usah takut menyekolahkan anaknya di sini. Kami para pemangku kebijakan di bidang pendidikan akan memperbaiki ini sebaik-baiknya agar tercipta kondisi aman dan nyaman bagi siswa,” ujarnya.
Lebih jauh, Ia menilai peristiwa ambruknya ruang kelas harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan sekolah yang telah berusia tua. Pemerintah, menurutnya, perlu menyiapkan sistem mitigasi ketika terjadi insiden kebencanaan di lingkungan sekolah.
Selain perbaikan fisik, ia juga menyoroti pentingnya penanganan psikologis bagi para siswa pasca kejadian.
“Trauma healing penting dilakukan, khususnya untuk siswa SMA 7 Mataram. Memberikan rasa aman dan nyaman itu utama, bukan hanya bagi siswa tetapi juga bagi para orang tua dan wali murid,” katanya.
Menurut Wakil Ketua Komisi X DPR RI ini, tanggung jawab menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman merupakan tugas bersama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Karena itu, ia memastikan akan terus mendorong percepatan penanganan agar saat tahun ajaran baru dimulai, SMA 7 Mataram telah memiliki fasilitas belajar yang layak dan aman.
“Sebagai anggota Komisi X DPR RI, saya akan terus mendorong supaya ini segera diperbaiki sehingga saat masuk sekolah tahun ajaran nanti, sarana dan prasarana sudah siap untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar,” pungkasnya.
Kasek SMA 7 Mataram Bersyukur Dikunjungi Komisi X DPR RI, Berharap Revitalisasi Menyeluruh Segera Terwujud
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 7 Mataram, Ridha Roslina, menyampaikan rasa syukur atas kunjungan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, ke sekolahnya, Jumat (22/5/2026). Menurutnya, perhatian langsung dari legislator Senayan tersebut membawa harapan baru bagi penyelesaian berbagai persoalan infrastruktur yang dihadapi sekolah.
“Jadi kami sangat bersyukur dengan kedatangan Miq Ari ke sekolah kami. Beliau memang mengetahui persis masalah sekolah kami, secara umum ya, bukan hanya sekolah kami,” ujar Ridha.
Menurutnya, kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI tidak sekadar kunjungan biasa, tetapi menjadi momentum penting untuk mendorong solusi konkret atas persoalan sarana dan prasarana pendidikan yang selama ini dihadapi SMA 7 Mataram.
Ridha berharap, hasil kunjungan tersebut tidak berhenti pada peninjauan lapangan semata, melainkan berlanjut pada langkah nyata, khususnya terkait upaya perbaikan bangunan sekolah.
“Tentu saja kami berharap ke depan ada tindak lanjut dari masalah yang telah kami kemukakan, termasuk juga berkaitan dengan perbaikan sekolah ini,” katanya.
Ia menegaskan, kebutuhan revitalisasi di SMA 7 Mataram tidak hanya menyasar ruang kelas yang baru-baru ini ambruk, tetapi juga bangunan lain yang kondisinya sudah menua dan membutuhkan evaluasi teknis secara menyeluruh.
“Jadi kami berharap bukan hanya kelas atau ruangan yang rubuh ini saja yang diperbaiki, tetapi keseluruhan ruangan yang ada, tentu setelah melalui assessment dari PU, memang dinyatakan layak untuk diperbaiki,” ungkapnya.
Ridha kemudian membeberkan riwayat bangunan ruang kelas yang ambruk tersebut. Menurutnya, gedung itu dibangun pada tahun 2006 dengan sumber pembiayaan berasal dari dana komite sekolah.
Bangunan itu sempat mengalami kerusakan saat gempa bumi NTB tahun 2018. Namun, perbaikan yang dilakukan saat itu masih terbatas pada bagian plafon yang runtuh.
“Ruangan yang rubuh ini merupakan bangunan tahun 2006, sumber pendanaan pembangunannya dari komite. Tahun 2018 saat gempa sempat diperbaiki, tetapi hanya plafonnya saja karena waktu itu plafonnya yang jatuh,” jelasnya.
Pernyataan Ridha memperlihatkan bahwa persoalan kerusakan bangunan di SMA 7 Mataram bukanlah masalah baru, melainkan akumulasi persoalan infrastruktur yang telah berlangsung cukup lama.
Karena itu, pihak sekolah menaruh harapan besar pada komitmen yang disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI untuk mendorong revitalisasi sekolah, termasuk percepatan penanganan ruang belajar yang rusak agar siswa dapat menjalani proses pembelajaran secara aman dan nyaman.
Bagi SMA 7 Mataram, perhatian pemerintah pusat dan daerah dinilai menjadi langkah penting agar persoalan keselamatan bangunan sekolah dapat segera ditangani, sekaligus menjamin kesiapan sarana pendidikan menghadapi tahun ajaran baru. (GA. Im*)


















