Bima, Garda Asakota.-Upaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing garam rakyat terus didorong Pemerintah Kabupaten Bima. Ditandai dengan peluncuran merek produk olahan “Garam Merah Putih Bima” sekaligus peresmian Pabrik Washing Plant bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Desa Donggobolo, Kecamatan Woha, Selasa (6/10/2026).
Fasilitas washing plant terintegrasi ini berfungsi memurnikan garam melalui tahapan sistematis mulai dari pencucian hingga iodisasi guna menekan kadar pengotor. Penerapan teknologi modern ini sukses meningkatkan mutu garam rakyat menjadi berstandar industri dan SNI, sehingga mampu memperluas pangsa pasar dan meningkatkan kesejahteraan petambak.
Peresmian di halaman Pabrik Pengolahan Garam Bima, Jalan Lintas Bima-Sumbawa tersebut ditandai pengguntingan pita oleh Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy bersama Kepala Balai Besar Garam KKP RI Dr. Muh. Zaki Mahasin, S.Pi., M.Si beserta jajaran KKP RI.
Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy mengatakan, peningkatan kualitas dan pengolahan garam menjadi langkah strategis untuk meningkatkan harga jual dan kesejahteraan petani garam.
“Kalau kita mau harga garam bagus, kita harus meng-upgrade garam menjadi garam industri. Bisa untuk pertambangan, kosmetik, makanan dan minuman. Ruangnya sangat banyak,” ungkapnya.
Pemkab Bima berkomitmen memastikan hasil produksi garam lokal terserap pasar dengan harga layak guna meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kita harus menatap masa depan yang baik untuk seluruh petani garam di Kabupaten Bima. Tugas kita bersama memastikan garam-garam kita terbeli agar nasib masyarakat petani kita semakin baik,” ujarnya.
Kepala Balai Besar Garam KKP RI, Muh. Zaki Mahasin menyatakan kehadiran Washing Plant menjadi fondasi awal untuk membangun industri garam yang kuat di Bima. Ia mendorong kemitraan strategis antara swasta, BUMD, dan koperasi guna memperluas jaringan pemasaran hingga Jawa dan Sulawesi.
KKP juga siap memberikan pendampingan intensif untuk membekali pelaku usaha dengan kompetensi mulai teknik produksi, pengolahan hingga pengembangan bisnis.
Sementara Ketua Koperasi Produsen Garam GGTI Nangatolosia, Khalil Alfalah menyatakan komitmen mendorong agar garam Bima diolah terlebih dahulu sebelum dipasarkan keluar daerah guna memberi nilai tambah dan membuka peluang ekspor, seiring diluncurkannya “Garam Merah Putih Bima” yang telah mengantongi izin edar dan rekomendasi resmi BPOM.
Acara dihadiri unsur KKP RI, Bappeda NTB, jajaran OPD Pemkab Bima, Anggota DPRD NTB Abdul Rauf, Direktur PT. GMC, para petambak, koperasi dan tokoh masyarakat, dilanjutkan peninjauan fasilitas pengolahan. (GA. 212*)


























