Berhasil Deteksi Keberadaan PMI Asal Mataram di Myanmar, Pemprov NTB Perkuat Koordinasi dengan KBRI Yangon Untuk Langkah Pemulangan

Mataram, Garda Asakota.-Semenjak dikabarkan berada di Myanmar dan meminta bantuan pemulangan, keberadaan MYF (26) warga Karang Kelok Kecamatan Selaparang Kota Mataram terus ditelusuri keberadaannya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Melalui Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Disnakertrans Provinsi NTB, Pradiptha Himawan Putra, S.H., M.H., menyampaikan berdasarkan informasi dari KBRI Yangon, pada tanggal 24 September 2026 sekitar pukul 11.34 waktu Myanmar, pihak KBRI Yangon telah berhasil terhubung dan berkomunikasi melalui WhatsApp dengan MYF.

“Berdasarkan komunikasi awal tersebut, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan tiba di Myanmar melalui Bandara Yangon sekitar tanggal 15 September 2026,” kata Pradiptha melalui siaran pers yang diterima wartawan, Jum’at 25 September 2026.

Menurutnya, perkembangan terbaru per tanggal 25 September 2026 pukul 15.10 WITA, lokasi keberadaan MYF telah berhasil diidentifikasi, yaitu di sekitar Asia Road, Myawaddy – Thin Gan Nyi Naung Road, Myawaddy 13051, Myanmar (Burma).

Lokasi tersebut berada di Myawaddy Township, Kayin State, di bagian tenggara Myanmar dan berdekatan langsung dengan perbatasan Myanmar–Thailand. Kota Myawaddy dipisahkan dari wilayah Mae Sot, Provinsi Tak, Thailand, oleh Sungai Moei/Thaungyin.

“Kawasan ini merupakan salah satu koridor perdagangan dan perlintasan utama antara Myanmar dan Thailand,” timpalnya.

Menurutnya, jalan yang disebut dalam lokasi tersebut merupakan bagian dari koridor Asian Highway/Asia Highway 1 (AH1) yang menghubungkan kawasan Myawaddy menuju Thin Gan Nyi Naung dan selanjutnya ke arah Kawkareik serta wilayah Myanmar bagian barat.

Thin Gan Nyi Naung berada dalam wilayah Myawaddy Township dan merupakan salah satu titik penting pada jalur tersebut.

Secara geografis, kawasan Myawaddy–Thin Gan Nyi Naung bukan merupakan kawasan perkotaan Yangon, melainkan wilayah perbatasan dengan karakter geografis yang berbeda, termasuk kawasan perbukitan dan pegunungan Dawna pada jalur menuju Kawkareik. Kondisi geografis dan situasi keamanan di wilayah tersebut menyebabkan mobilitas dari dan menuju lokasi perlu mempertimbangkan jalur yang tersedia, pemeriksaan di lapangan, serta kewenangan berbagai pihak yang menguasai wilayah.

Kawasan Myawaddy dan wilayah perbatasan sekitarnya juga menjadi perhatian internasional karena terdapat laporan mengenai perdagangan manusia dan pusat operasi penipuan daring (online scam/scam centre).

Pemerintah Inggris, misalnya, memasukkan Myawaddy District sebagai salah satu wilayah Myanmar yang memiliki aktivitas scam centre dan kasus korban perdagangan manusia. Namun demikian, keberadaan yang bersangkutan di kawasan Myawaddy tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa yang bersangkutan merupakan korban TPPO atau bekerja pada scam centre.

“Hal tersebut masih memerlukan verifikasi langsung oleh KBRI Yangon dan otoritas terkait,” timpalnya.

Menurutnya, situasi keamanan di kawasan tersebut juga cukup kompleks. Laporan kajian konflik Myanmar tahun 2026 mencatat adanya penguasaan atau pengaruh berbagai kelompok bersenjata pada sejumlah jalur strategis di Myawaddy Township, termasuk kawasan dari Thin Gan Nyi Naung hingga Shwe Kokko Myaing.

“Oleh karena itu, proses penjemputan tidak dapat dilakukan secara sepihak tanpa memperhatikan aspek keamanan, akses wilayah, dan koordinasi dengan otoritas/pihak yang memiliki kewenangan di lapangan,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi koordinasi sementara, jarak dari lokasi MYF menuju Bandara Internasional Yangon memerlukan perjalanan darat yang cukup panjang, dengan estimasi sekitar 7–8 jam perjalanan, tergantung kondisi jalan, keamanan, pemeriksaan/checkpoint, rute yang dapat digunakan, serta situasi aktual di lapangan.

“Dengan demikian, lokasi yang bersangkutan cukup jauh dari pusat pemerintahan dan layanan diplomatik di Yangon. Proses pemindahan menuju Yangon perlu dilakukan secara terencana dan tidak dapat diperlakukan sebagai penjemputan biasa,” ungkapnya.

Koridor Myawaddy–Thin Gan Nyi Naung merupakan bagian dari jalur yang secara historis menghubungkan perbatasan Thailand dengan wilayah Myanmar bagian dalam. Jalur tersebut melewati kawasan dengan kondisi geografis yang relatif kompleks dan dalam perkembangan terkini terdapat perubahan penguasaan maupun penggunaan sejumlah jalur akibat dinamika konflik.

Menurutnya, Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB saat ini terus mengupayakan koordinasi dengan KBRI Yangon untuk memperoleh kepastian langkah penjemputan MYF dari lokasi keberadaannya.

“Koordinasi diarahkan untuk memastikan kemungkinan dan mekanisme penjemputan langsung menuju titik lokasi sebagaimana koordinat Google Maps yang telah diperoleh, dengan tetap memperhatikan kewenangan KBRI Yangon serta kondisi keamanan wilayah,” ungkapnya.

KBRI Yangon diharapkan dapat melakukan verifikasi lebih lanjut terhadap kondisi yang bersangkutan, termasuk kondisi keselamatan dan kesehatan, kebebasan bergerak, pihak yang saat ini bersama atau menguasai yang bersangkutan, dokumen perjalanan yang dimiliki, status pekerjaan dan proses keberangkatannya ke Myanmar, kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, penyekapan, TPPO, atau tindak pidana lainnya dan kemungkinan serta mekanisme pemindahan yang aman menuju Yangon.

Pemerintah Provinsi NTB pada prinsipnya mendukung langkah perlindungan dan pemulangan yang dilakukan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri/KBRI Yangon serta Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, dengan tetap menempatkan keselamatan WNI/PMI dan petugas sebagai pertimbangan utama.

“Mengingat karakteristik wilayah Myawaddy sebagai kawasan perbatasan dan adanya dinamika keamanan serta keberadaan berbagai kelompok yang menguasai sejumlah jalur, setiap upaya penjemputan perlu terlebih dahulu mendapatkan koordinasi dan arahan dari KBRI Yangon agar dapat dilakukan melalui jalur yang aman dan sesuai kewenangan,” ungkapnya.

Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif dengan KBRI Yangon serta keluarga MYF.

Fokus tindak lanjut saat ini adalah memastikan kondisi keselamatan MYF, memastikan titik lokasi dan akses menuju yang bersangkutan, mendapatkan arahan KBRI Yangon mengenai mekanisme penjemputan, mengupayakan pemindahan yang bersangkutan dari lokasi menuju Yangon melalui jalur yang aman dan mengupayakan proses pemulangan ke Indonesia setelah seluruh aspek administratif dan keselamatan terpenuhi.

Pihaknya berjanji akan terus menyampaikan perkembangan lebih lanjut mengenai hasil koordinasi dengan KBRI Yangon, kondisi yang bersangkutan, mekanisme penjemputan, maupun rencana pemulangan ke Indonesia. (GA. Im*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page