Tiga Kali Masuk KEN, Festival Rimpu Mantika Jadi Tiket Kota Bima Menuju Kota Kreatif

Jajaran tamu undangan VIP pada pembukaan Festival Rimpu Mantika 2026 di Kompleks Istana Kesultanan Bima, Asi Mbojo, Jumat (24/4/2026). Tampak banner KEN 2026 dan logo Kemenkraf RI di latar panggung. Festival Rimpu Colo-Rimpu Cili tahun ini menargetkan 85 ribu peserta pawai dan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif Bima. Foto: Ist

Kota Bima, Garda Asakota.-Kain sarung tenun Bima kembali menutup wajah ribuan perempuan Dou Mbojo. Jumat malam (24/4/2026), Festival Rimpu Mantika 2026 resmi dibuka di Asi Mbojo Kota Bima menandai tahun ketiga iven ini menembus 120 Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Ekonomi Kreatif RI.

Bukan sekadar pesta budaya. Di hadapan Wagub NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E, M.IP, Walikota Bima H A Rahman H Abidin, S.E, Wakil Walikota Bima, Feri Sofiyan, S.H, pejabat Kemenkraf RI, Ketua TP PKK Kota Bima, Hj. Badrah Ekawati, dan Ketua GOW Kota Bima, Jumriah Feri Sofiyan, festival ini diposisikan sebagai mesin penggerak ekonomi. Targetnya ambisius: 85 ribu peserta Pawai Rimpu Colo-Rimpu Cili, naik 5 ribu dari tahun lalu.

“Budaya bukan saja milik masa lalu, tetapi harapan masa depan. Harus dikembangkan secara ilmiah,” tegas Walikota A Rahman. Ia menyebut Rimpu Mantika sebagai lokomotif yang mengerek pendapatan UMKM, hotel, transportasi, hingga kuliner. “Ini bagian penguatan pariwisata dan ekonomi NTB,” ujar Walikota.

Sinyal paling kuat datang dari Jakarta. Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif Kemenkraf RI, Dr. H. Abdul Malik, menyebut Rimpu Mantika sebagai best practice nasional.

“Kota Bima luar biasa. Tiga kali berturut-turut masuk KEN. Ini bukti budaya Bima punya daya tarik dan nilai ekonomi kreatif yang kuat,” ujar Abdul Malik di panggung Asi Mbojo.

Menurutnya, filosofi keteduhan dan kesantunan di balik Rimpu Colo-Cili adalah modal sosial yang bisa diuangkan. “Ketika budaya dikemas baik, ekosistem bergerak. UMKM naik kelas, hotel penuh, transportasi hidup, konten kreator punya bahan, seniman punya panggung.” tuturnya.

Abdul Malik membawa kabar kunci, Festival Rimpu Mantika menjadi penguat Kota Bima menuju predikat “Kota Kreatif” Kemenkraf RI. Status itu, kata dia, membuka akses kurasi produk, jejaring global, hingga pendanaan internasional untuk subsektor fesyen, kriya, seni pertunjukan, film, dan kuliner Kota Bima.

“Dengan kekayaan budaya dan konsistensi gelar event nasional, Kora Bima sangat layak didorong jadi Kota Kreatif. Tinggal kuatkan ekosistemnya bersama,” kata Abdul Malik.

Walikota Bima menyambut dukungan itu sebagai energi baru. “Ini pengakuan sekaligus tantangan. Budaya harus dikembangkan profesional agar beri manfaat ekonomi. Festival Rimpu Mantika adalah pintu masuknya,” ujar A Rahman. Ia berjanji perkuat kolaborasi pentahelix agar Kota Bima siap menyandang status Kota Kreatif.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri menyebut Festival Rimpu Mantika sebagai contoh terbaik bagaimana budaya lokal bisa menjadi kekuatan ekonomi kreatif.

Mantan Bupati Bima dua periode ini mendorong agar festival terus dikurasi dengan baik sehingga memberi dampak ekonomi sekaligus edukasi budaya bagi generasi muda. ‘Dengan target 85 ribu peserta, efek domino sudah terasa dan omzet pedagang melonjak.

Tiga tahun di KEN, selangkah lagi ke Kota Kreatif. Rimpu Mantika bukan lagi sekadar tontonan, tapi jalan Kota Bima menuju panggung ekonomi kreatif dunia,” tutur Wagub NTB. (GA. 212*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page