Tokoh Desa Ntonggu Soroti Proyek SPAM DAK Rp1,3 Miliar, Dinilai Pemborosan di Tengah Efisiensi Anggaran

Kondisi pekerjaan bak penampung air proyek Peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) DAK 2026 di Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Proyek tersebut disorot warga karena dinilai tidak prioritas, sementara infrastruktur jalan rusak sepanjang 1 KM lebih dibutuhkan masyarakat. Foto: Ist

Bima, Garda Asakota.-Proyek Peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2026 di Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, mendapat sorotan dari tokoh masyarakat setempat.

Tokoh Desa Ntonggu, Moch. Ito Saputra, ST, menilai proyek tersebut terkesan pemborosan di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Pasalnya, Desa Ntonggu dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi mengalami krisis air bersih.

Kepada Garda Asakota, Rabu siang (14/10/2026), Ito mengatakan di desanya air justru melimpah, bahkan di areal persawahan air meluap. Sehingga menurutnya anggaran tersebut akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk kebutuhan yang lebih urgen seperti infrastruktur jalan Yang menghubungkan Desa Ntonggu dengan Desa Teke.

Sebelumnya ia tetap mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Bima yang telah memilih Desa Ntonggu sebagai penerima manfaat. Namun di tengah efisiensi, penempatan anggaran harus pada hal yang benar-benar dibutuhkan masyarakat saat ini.

“Sudah beberapa tahun Desa Ntonggu tidak lagi kekurangan air bersih, apalagi ada beberapa SPAM yang dibangun oleh Desa sendiri beberapa tahun yang lalu. Pengadaan SPAM yang bersumber dari Mata Air Kalodo bukan baru kali ini dilakukan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, sekitar 10 tahun lalu proyek SPAM yang bersumber dari APBD Provinsi NTB dengan pagu anggaran Rp1,6 miliar juga masuk di Desa Ntonggu dengan fasilitas yang lebih lengkap. Namun pemanfaatannya hanya berjalan sekitar 1 tahun karena tidak ada pemeliharaan.

“Kami menilai SPAM ini hanya pemborosan anggaran saja dan hampir beberapa SPAM yang dibangun tidak berjalan dengan maksimal untuk pemanfaatannya,” beber Ito.

Menurutnya, kebutuhan paling urgen masyarakat Ntonggu saat ini adalah perbaikan jalan. Kondisi jalan rusak parah sepanjang sekitar 1 Km, saat musim hujan jalan tersebut seperti sungai.

“Tempat lalu lalang banjir dan para pengguna jalan harus melewati banjir setinggi kurang lebih 1 meter setiap harinya,” katanya.

Bahkan, lanjut Ito, masyarakat kerap meminta bantuan pemilik excavator untuk menimbun jalan tersebut, bahkan ada yang menimbun dengan biaya sendiri.

“Perbaikan jalan sangat diperlukan oleh masyarakat pada saat ini dibanding proyek SPAM yang pada akhirnya tidak dimanfaatkan. Jalan sebagai moda transportasi utama penunjang perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (GA. 212*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page