Mataram, Garda Asakota.-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura secara resmi melantik dan mengukuhkan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hanura Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Periode 2026-2030 serta Sepuluh Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Kabupaten/kota se-NTB di Hotel Lombok Raya, Mataram, Sabtu (1/8/2026).
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran DPP Partai Hanura yang diwakili Ketua Dewan Penasehat Irjen Pol (Purn) Drs. Marwan Paris, MPA, bersama Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura Beni Ramdhani beserta rombongan. Hadir pula Gubernur NTB, HL Muhamad Iqbal, Wakil Gubernur NTB, Hj Indah Dhamayanti Putri, unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, penyelenggara pemilu, pimpinan partai politik, hingga ratusan kader Hanura dari seluruh NTB.
Ketua DPD Partai Hanura NTB, Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa pelantikan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi titik awal perjuangan besar Partai Hanura dalam menghadapi kontestasi politik mendatang.
“Pelantikan yang baru saja kita saksikan bukan hanya seremoni. Ini adalah tonggak awal perjuangan Partai Hanura untuk meningkatkan suara dan menambah jumlah kursi di DPRD Provinsi maupun DPRD kabupaten dan kota pada Pemilu Legislatif 2029,” tegas Ahmad Dahlan yang juga anggota DPRD NTB dua (2) Periode ini.
Ia mengajak seluruh pengurus dan kader Hanura di NTB untuk membangun optimisme serta cita-cita besar demi mengembalikan kejayaan partai.
“Mari kita bangun mimpi-mimpi besar di Partai Hanura. Mari kita rajut masa depan Hanura bersama. Saya akan mempertaruhkan keberlangsungan karier politik saya di Partai Hanura sampai selesai demi membesarkan partai ini,” ujarnya disambut tepuk tangan ratusan kader.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Dahlan juga memperkenalkan identitas baru Partai Hanura. Ia menjelaskan bahwa partainya akan segera menggunakan logo baru bergambar singa yang telah disepakati dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Jakarta.
Menurutnya, perubahan logo merupakan bagian dari semangat pembaruan dan transformasi Partai Hanura dalam menghadapi tantangan politik ke depan.
“Beberapa waktu lalu dalam Rakernas di Jakarta telah disepakati perubahan logo Partai Hanura. Ke depan kita akan menggunakan logo bergambar singa. Dalam beberapa bulan mendatang DPP akan melakukan peluncuran resmi beserta penggunaan seluruh atribut baru Partai Hanura,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta maaf kepada seluruh tamu undangan atas masih digunakannya dua logo Hanura dalam pelaksanaan acara pelantikan tersebut sebagai bagian dari masa transisi menuju identitas baru partai.
Ahmad Dahlan juga mengenang perjalanan panjang karier politiknya di Partai Hanura. Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan partai berlambang hati nurani tersebut karena seluruh jenjang kepemimpinannya ditempuh dari bawah.
Ia mengawali kiprah politiknya pada 2007 sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC), kemudian dipercaya menjadi Sekretaris DPC Kabupaten Bima, selanjutnya menjabat Sekretaris DPD Partai Hanura NTB, hingga akhirnya dipercaya memimpin DPD Partai Hanura Provinsi NTB.
“Karena perjalanan saya dimulai dari PAC, kemudian menjadi Sekretaris DPC, Sekretaris DPD hingga hari ini dipercaya menjadi Ketua DPD Hanura NTB, saya merasa memiliki utang jasa yang sangat besar kepada Partai Hanura. Oleh karena itu, saya bertekad mengembalikan kepercayaan itu dengan meningkatkan perolehan suara dan kursi Partai Hanura di seluruh NTB,” tegasnya.
Ahmad Dahlan optimistis, dengan kepengurusan yang baru dilantik dan semangat konsolidasi hingga tingkat kabupaten/kota, Partai Hanura mampu bangkit serta menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan pada Pemilu 2029.
Ia pun menutup sambutannya dengan mengajak seluruh kader menjaga soliditas organisasi, memperkuat kerja-kerja politik di tengah masyarakat, serta menjadikan pelantikan tersebut sebagai awal perjuangan menuju kemenangan Hanura di Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura, Beni Ramdhani, dalam sambutannya menegaskan agar seluruh pengurus DPD dan DPC yang baru dilantik tidak jumawa dan selalu mengingat bahwa jabatan bukan hadiah, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui kerja nyata.
“Jangan ada pengurus yang hanya tampil saat pelantikan, tetapi menghilang ketika rakyat membutuhkan pertolongan. Partai Hanura akan besar bukan karena banyaknya jabatan, tetapi karena besarnya pengabdian kepada rakyat,” tegasnya.
Ia juga menitipkan tujuh pesan DPP Partai Hanura yang harus selalu diingat oleh semua kader.
Pertama, menghidupkan organisasi melalui konsolidasi hingga tingkat desa dan kelurahan.
Kedua, menjadikan Hanura sebagai rumah perjuangan rakyat dengan membuka ruang bagi petani, nelayan, pedagang kecil, guru, tenaga kesehatan, perempuan, penyandang disabilitas hingga kaum muda.
Ketiga, membela kepentingan daerah dengan memperjuangkan keadilan fiskal, pemerataan pembangunan, hilirisasi ekonomi, perlindungan lingkungan, serta keberpihakan kepada tenaga kerja dan pelaku usaha lokal.
Keempat, mempersiapkan kemenangan sejak sekarang dengan mengutamakan kader yang memiliki integritas dan kekuatan moral, bukan semata-mata kekuatan modal.
Kelima, menguasai pertarungan gagasan dan membangun komunikasi yang sehat dengan seluruh partai politik sebagai sesama sahabat demokrasi.
Keenam, membangun kerja sama tanpa kehilangan prinsip. Dalam kesempatan itu, Beni kembali menegaskan bahwa Hanura memilih tidak masuk koalisi pemerintahan.
“Posisi Partai Hanura sudah final. Kami memilih tidak masuk koalisi karena secara moral, mereka yang sejak awal berjuang bersama Presiden terpilih lebih layak berada di dalam pemerintahan. Tetapi setiap program pemerintah yang baik akan kami dukung sepenuhnya demi kepentingan rakyat,” ujarnya.
Ketujuh, menjaga kehormatan partai dengan menjunjung tinggi kejujuran, kesederhanaan, kedisiplinan dan keberpihakan kepada rakyat.
Di akhir sambutannya, Beni mengajak seluruh kader menjadikan pelantikan sebagai momentum kebangkitan Partai Hanura di Nusa Tenggara Barat.
Ia optimistis target penambahan suara dan kursi Partai Hanura pada Pemilu 2029 sebagaimana disampaikan Ketua DPD Hanura NTB Ahmad Dahlan dapat diwujudkan melalui kerja keras seluruh kader.
“Jadikan pelantikan ini sebagai awal kebangkitan Partai Hanura di Nusa Tenggara Barat. Jaga kehormatan partai, bela kepentingan daerah, perjuangkan nasib rakyat dan rawat persatuan Indonesia,” tandasnya.
Gubernur NTB, H Lalu Muhamad Iqbal, mengawali sambutannya dengan menyampaikan ucapan selamat kepada Ketua DPD Partai Hanura NTB, Ahmad Dahlan, beserta seluruh jajaran pengurus yang baru dilantik.
“Selamat kepada seluruh pengurus DPD dan DPC Partai Hanura. Ini bukan hadiah, tetapi amanah. Mudah-mudahan seluruh pengurus diberikan kekuatan untuk menjalankan kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Iqbal juga mengajak seluruh hadirin mendoakan Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO), yang sedang menjalani perawatan kesehatan di Singapura agar segera diberikan kesembuhan.
Dalam kesempatan tersebut, Iqbal mengungkapkan hubungan emosionalnya dengan Partai Hanura. Ia menegaskan, meskipun Hanura tidak bergabung dalam koalisi pemerintahan di tingkat nasional, namun di NTB partai tersebut merupakan bagian dari koalisi yang mengusung dirinya pada Pilkada.
“Memang Hanura bukan bagian dari koalisi pemerintah di tingkat nasional. Tetapi di NTB, sejak awal Hanura adalah koalisi Gubernur NTB,” tegasnya.
Iqbal kemudian menceritakan pengalaman yang selama ini jarang diketahui publik. Menurutnya, selain Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sosok Oesman Sapta Odang merupakan tokoh yang terus memberikan semangat hingga dirinya mantap maju dalam Pilgub NTB.
Ia berkisah, ketika telah mengantongi dukungan empat partai politik dan hendak kembali ke Mataram, dirinya menerima telepon langsung dari OSO yang mempertanyakan mengapa dukungan Hanura belum diurus.
“Beliau terus memberikan semangat kepada saya. Harapan beliau hanya satu, yaitu NTB harus dipimpin oleh orang yang tepat. Karena itu saya terus mendoakan agar beliau segera pulih dan diberikan kesehatan,” tuturnya.
Iqbal juga mengapresiasi perubahan identitas Partai Hanura, mulai dari mars hingga logo baru bergambar singa yang menurutnya sarat makna keberpihakan kepada daerah.
“Saya baru pertama kali mendengar mars partai politik yang sampai tiga kali menyebut kata daerah. Itu menunjukkan perhatian yang besar terhadap pembangunan daerah. Saya berharap seluruh kader Hanura benar-benar menjadi penguat, bukan justru menjadi beban bagi daerah,” katanya.
Menurut Iqbal, cita-cita membangun Indonesia tidak harus selalu dilakukan dari pusat pemerintahan, melainkan dapat dimulai dari daerah.
“Saya pulang ke NTB bukan berarti berhenti membangun Indonesia. Justru niat saya adalah membangun Indonesia dari Nusa Tenggara Barat,” tegasnya.
Dengan gaya santai, Iqbal juga menyinggung perubahan logo Hanura menjadi singa. Ia kemudian berseloroh membandingkan singa dengan lambang partai lain seperti banteng, gajah hingga burung.
“Kalau burung tentu tidak bisa dibandingkan karena bermainnya di udara. Makamnya berbeda. Kalau singa dengan banteng atau gajah, biarlah masyarakat yang menilai. Yang penting semuanya sama-sama berkontribusi membangun bangsa,” ujarnya yang disambut tawa para hadirin.
Memasuki bagian akhir sambutannya, Iqbal mengingatkan seluruh kader Hanura agar memahami perubahan besar yang sedang terjadi di tingkat global.
Ia mencontohkan isu Selat Hormuz yang kini dikenal hingga masyarakat di tingkat bawah sebagai bukti bahwa dinamika internasional kini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, dunia sedang memasuki fase krisis yang panjang sejak pandemi Covid-19, disusul berbagai konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
“Jangan berharap krisis ini segera selesai. Setelah Covid muncul krisis lain, setelah itu muncul lagi persoalan baru. Kita harus menganggap situasi ini sebagai new normal,” katanya.
Karena itu, Iqbal menilai seluruh elemen bangsa, termasuk partai politik, harus mampu menyesuaikan pola pikir dan perilaku politik dengan tantangan zaman.
“Perilaku politik juga harus berubah mengikuti normal baru. Kita membutuhkan format politik yang baru, lebih adaptif terhadap perubahan. Saya melihat semangat perubahan itu mulai ditangkap oleh Partai Hanura melalui perubahan mars dan logonya,” ujarnya.
Sebagai kader Partai Gerindra, Iqbal menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik tidak boleh menghalangi kerja sama membangun daerah.
Ia mengajak seluruh kekuatan politik untuk memandang tantangan global dengan optimisme dan menjadikannya peluang memperkuat daerah.
“Saya percaya, jika seluruh elemen politik bersatu, saling membantu dan saling mendukung, maka NTB akan mampu menghadapi berbagai tantangan global dan terus memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” pungkasnya. (GA. Im*)























