Mataram, Garda Asakota.-Kursi pemilihan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi NTB mendadak menjadi perhatian publik. Hal ini disebabkan karena dua tokoh besar NTB yakni Gubernur NTB, H Lalu Muhamad Iqbal dan Anggota DPR RI, H Mori Hanafi, adu kuat dalam pertarungan memperebutkan kursi Ketua Umum KONI NTB yang bakal dihelat dalam waktu dekat ini.
Anggota DPR RI yang juga Ketua Umum KONI NTB Petahana, H Mori Hanafi, secara resmi mendaftar untuk maju kembali sebagai Calon Ketua Umum KONI NTB pada Selasa 11 Agustus 2026. Ia mengklaim mendapatkan dukungan dari empat (4) Koni Kabupaten dan Kota se-NTB dan 37 Cabor.
Sementara, Gubernur NTB yang juga Ketua PB PON 2028, H Lalu Muhamad Iqbal, mendaftarkan diri sebagai Calon Ketua Umum Koni NTB, pada Jum’at 14 Agustus 2026 dengan membawa dukungan delapan (8) Koni Kabupaten/Kota dan 18 Cabor. Iqbal juga mengklaim mendapat dukungan dari Ketua KONI Pusat, Kemenpora RI, dan bahkan Ketua DPRD NTB, Hj Baiq Isvie Rupaeda, yang juga Ketua Cabor Cricket ikut memberikan dukungan kepada orang nomor satu di NTB ini.
Baik H Lalu Muhamad Iqbal maupun H Mori Hanafi mengklaim memiliki motivasi yang tinggi untuk membangun prestasi olahraga NTB jelang pelaksanaan PON NTB-NTT 2028 nanti.
LMI sendiri meski sudah menjadi orang nomor satu di NTB dan juga sudah didaulat menjadi Ketua PB PON 2028 memiliki tanggungjawab besar dalam mensukseskan agenda PON 2028, meskipun tidak terpilih sebagai Ketua Umum KONI NTB, dengan tanggungjawabnyan selaku orang nomor satu di NTB dan selaku Ketua PB PON 2028, ia dituntut untuk memaksimalkan perannya untuk membantu KONI NTB dalam mensukseskan agenda besar olahraga nasional yang akan dihelat di NTB itu untuk mengharumkan nama NTB di mata Nasional.
Hal inilah yang kemungkinan membuat ia termotivasi lagi untuk merengkuh jabatan menjadi Ketua Umum KONI NTB. Meski dalam salah satu klausul persyaratannya menjadi Calon Ketua Umum KONI NTB harus dibuktikan dengan memiliki pengalaman menjadi Ketua Umum Olahraga berprestasi atau Ketua Umum Koni, yang dibuktikan dengan Surat Keputusan.
Kepada wartawan, Gubernur Iqbal, menegaskan agar seluruh masyarakat dan insan olahraga menjaga suasana tetap tenang dan sportif menjelang Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) yang akan menentukan Ketua KONI NTB periode 2026–2030. Menurutnya, dinamika pergantian kepemimpinan harus menjadi energi positif untuk mempersiapkan NTB menghadapi tanggung jawab besar sebagai tuan rumah PON 2028.
Miq Iqbal mengatakan tingginya perhatian masyarakat terhadap proses pemilihan Ketua KONI NTB merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan olahraga daerah. Namun, antusiasme tersebut perlu dikelola secara dewasa agar tidak berkembang menjadi ketegangan yang justru dapat mengganggu soliditas insan olahraga NTB.
“Tidak ada yang perlu diperdebatkan, tidak ada yang perlu membuat kita harus naik tensi. Kita jalani ini dengan kalem, kita jalani ini dengan tenang,” ujar Iqbal dalam keterangannya, Jumat (14/8).
Gubernur memastikan komunikasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk menjaga proses transisi kepemimpinan KONI NTB berjalan kondusif. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Ketua KONI NTB Mori Hanafi, KONI Pusat, serta pihak-pihak terkait untuk memastikan seluruh tahapan berlangsung secara baik dan sesuai dengan semangat olahraga.
“Saya terus berkomunikasi dengan Pak Haji Mori Hanafi, dengan KONI Pusat, dan semua pihak. Kita sepakat bahwa proses ini harus berjalan dengan damai, baik, dan lancar,” tegasnya.
Menurut Miq Iqbal, NTB saat ini memiliki agenda yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Bersama Nusa Tenggara Timur dan Daerah Khusus Jakarta, NTB akan menjadi tuan rumah PON 2028 yang membutuhkan kesiapan panjang, kerja sama lintas pihak, serta soliditas seluruh pemangku kepentingan olahraga.
Karena itu, suasana internal dunia olahraga harus dijaga sejak awal. Persiapan PON 2028 membutuhkan energi, konsentrasi, dan kolaborasi, bukan konflik yang menguras perhatian.
“Kita ingin memasuki persiapan PON 2028 dengan suasana hati yang senang, damai, karena kita punya beban moral yang sangat berat untuk memastikan PON 2028 berlangsung dengan baik,” katanya.
Di tengah dinamika menjelang Musorprov, Gubernur juga mengajak masyarakat mengarahkan perhatian pada momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, momentum kemerdekaan merupakan kesempatan untuk merefleksikan capaian sekaligus memperkuat kebersamaan sebelum menghadapi berbagai agenda besar daerah.
“Mari sementara waktu kita fokus ke persiapan HUT RI. Ini momen yang sangat penting buat kita untuk merefleksikan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang ingin kita capai ke depan,” ujarnya.
Miq Iqbal menegaskan bahwa siapa pun yang nantinya maju dan terpilih memimpin KONI NTB diyakini memiliki niat dan komitmen untuk memajukan olahraga daerah. Karena itu, proses pemilihan harus ditempatkan sebagai bagian dari mekanisme organisasi, bukan alasan untuk memecah persaudaraan.
“Tetap tenang, tetap sportif. Semua punya keinginan dan komitmen yang sama untuk melihat NTB lebih baik dalam semua hal, termasuk di dunia olahraga,” tegasnya.
Sementara Tim pemenangan Mori Hoanafi berharap kontestasi Musorprov KONI NTB dapat berlangsung damai, sportif, dan bebas dari intervensi.
Ketua Tim Pemenangan Mori Hanafi, Karina De Vega, mengatakan pihaknya mengapresiasi sikap Miq Iqbal yang sebelumnya mengimbau agar pemilihan Ketua KONI NTB berjalan damai dan sportif.
“Kami sangat mengapresiasi dan menghargai beliau sudah mendaftar sebagai calon Ketua KONI NTB 2026–2030,” kata Karina, Jumat (14/8)
Karina berharap setelah dua kandidat resmi masuk dalam bursa, tidak ada lagi manuver yang berpotensi memengaruhi pilihan Pengprov cabang olahraga (cabor) maupun KONI kabupaten/kota.
Dia juga meminta tidak ada upaya mendorong cabor yang sebelumnya telah memberikan dukungan kepada Mori Hanafi untuk memberikan dukungan ganda.
“Biarlah semua berjalan dengan cara sportif. Tidak ada lagi telepon-telepon kepada cabor untuk memberikan dukungan ganda,” tegasnya.
Menurut Karina, pihaknya meyakini jika ada manuver atau tekanan terhadap cabor, hal tersebut bukan merupakan arahan langsung dari Gubernur NTB. Sebab, dalam kontestasi olahraga, sportivitas harus menjadi prinsip utama.
“Sebagai insan olahraga, tidak ada lain yang kita junjung selain sportivitas. Tidak ada intervensi,” ujarnya.
Karina menilai setiap Pengprov cabor sebagai pemilik suara sah harus diberikan ruang untuk menentukan pilihan berdasarkan hati nurani serta rekam jejak dan pengalaman mereka dalam pembinaan olahraga di NTB.
“Biar semua cabor bebas mengikuti hati nuraninya. Mereka bisa melihat apa yang mereka alami dalam perjalanan pembinaan olahraga. Pengprov cabor sebagai pemilik suara sah tentu bisa menimbang dengan bijak siapa yang layak mereka tunjuk menjadi pemimpin,” katanya.
Karina mengakui beberapa hari terakhir dinamika menjelang Musorprov KONI NTB cukup meresahkan. Berbagai manuver politik olahraga dinilai berpotensi mengganggu semangat sportivitas.
“Kalau kita memulai suatu pertandingan dengan sudah tidak adanya sportivitas, saya pikir itu perlu dipertanyakan,” sindirnya.
Dengan telah resminya Miq Iqbal mendaftarkan diri, Karina mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses berikutnya kepada Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) serta peserta Musorprov.
“Dengan beliau sudah maju, oke, kita serahkan kepada TPP, nanti kepada anggota cabor di Musyawarah Provinsi. Siapa yang akan dipilih, itu saja,” tandasnya. (**)
























