Kota Bima, Garda Asakota.-Festival Rimpu Mantika 2026 kembali digelar. Tiga tahun berturut-turut masuk Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Ekonomi Kreatif, 85 ribu perempuan siap memenuhi jalanan Kota Bima dengan Rimpu Colo dan Rimpu Cili. Gegap gempita, ekonomi bergerak, UMKM naik kelas. Luar biasa.
Tapi festival ini bukan sekadar panggung seremonial dan mesin ekonomi kreatif. Ada yang lebih substantif dari sekadar dampak angka. Menurut Rektor Uniprima (Universitas Puangrimaggalatung) Sengkang Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Imran Ismail, M.Si, filosofi Rimpu sebagai moral dan etika Maja Labo Dahu yang hari ini mulai pudar dan dibelakangkan.
“Rimpu, bukan hanya kain sarung yang menutup kepala dan wajah perempuan Bima. Ia adalah simbol. Simbol keteduhan, kesantunan, dan keberanian menjaga marwah,” ungkap Profesor kelahiran Jatiwangi Kota Bima ini, kepada media, Sabtu siang (25 /4/2026).
Di balik lipatan Rimpu Colo untuk perempuan yang belum menikah dan Rimpu Cili yang hanya menyisakan mata untuk yang sudah menikah, tersimpan ajaran tua Dou Mbojo, Maja Labo Dahu.
Maja artinya malu. Malu berbuat salah, malu melanggar norma, malu mengkhianati kepercayaan. Dahu artinya takut. Takut pada Tuhan, takut pada hukum adat, takut pada konsekuensi sosial bila melukai nilai.
“Maja Labo Dahu adalah benteng moral yang dulu mengikat rapat perilaku orang Bima. “Malu korupsi, takut menyakiti. Malu berbohong, takut pada hisab,” tuturnya.
Sayangnya, di tengah gempuran modernisasi dan budaya instan, nilai itu kian tergerus. Rimpu, sering berhenti di kain. Dipakai saat festival, ditanggalkan setelah pawai. Sementara dalam keseharian, Maja Labo Dahu tak lagi jadi rem. “Kita saksikan bersama, ujaran kebencian mudah tersebar, janji mudah diingkari, ruang publik kehilangan kesantunan,” imbuhnya.
Di titik inilah Festival Rimpu Mantika menemukan makna terdalamnya. Ia tidak boleh berhenti sebagai atraksi wisata. Festival harus jadi ruang edukasi kultural. Panggung untuk mengingatkan bahwa budaya bukan milik masa lalu, tapi harapan masa depan. Bahwa Rimpu adalah cara Dou Mbojo mendidik anak perempuannya, berjalan dengan teduh, bicara dengan santun, bertindak dengan berani karena benar.
Tugas kita bersama, pemerintah, tokoh adat, akademisi, media, dan komunitas memastikan nilai itu hidup. Kurasi festival jangan hanya soal koreografi pawai. Masukkan dialog Maja Labo Dahu di sekolah. Libatkan ‘lebe’ untuk menuturkan filosofi Rimpu ke generasi Z.
Buat konten digital yang membedah makna, bukan hanya estetika. Karena ketika Rimpu kembali jadi laku, bukan sekadar kain, maka festival ini sukses bukan hanya mendatangkan wisatawan, tapi melahirkan generasi Bima yang beradab.
Tiga kali masuk KEN adalah prestasi. Selangkah lagi jadi Kota Kreatif adalah peluang. Tapi warisan terbesar Festival Rimpu Mantika adalah ketika anak-anak Bima kembali merasa maja untuk berbuat salah dan dahu pada Tuhan. Di situlah budaya benar-benar jadi ketahanan. Di situlah Rimpu menemukan ruhnya.
Ekonomi boleh tumbuh dari festival. Tapi peradaban tumbuh dari nilai. Dan Maja Labo Dahu adalah nilai paling mahal yang diwariskan, Rimpu untuk kita jaga. (GA. 212*)


















