Pengamat: Dinamika dan Kericuhan Kecil di Porprov NTB Wajar, Momentum Evaluasi Menuju PON 2028

Pemerhati Olahraga NTB, Iskandar Nando.

Mataram, Garda Asakota.-Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 yang sesekali diwarnai dinamika dan kericuhan kecil di sejumlah cabang olahraga dinilai masih dalam batas kewajaran. Justru, tingginya tensi persaingan menunjukkan gairah kompetisi atlet daerah yang semakin meningkat.

Penilaian tersebut disampaikan Pemerhati Olahraga NTB, Iskandar Nando, yang juga merupakan mantan pemain sekaligus asisten pelatih Lombok FC. Menurutnya, di balik beberapa insiden yang mencuat selama Porprov, masih banyak hal positif yang patut diapresiasi, terutama kerja keras KONI NTB dan panitia dalam menggelar ajang olahraga terbesar di tingkat provinsi tersebut.

“Saya mengapresiasi teman-teman KONI NTB, khususnya Ketua KONI, yang terus turun langsung ke berbagai venue untuk melihat kondisi di lapangan. Itu menunjukkan keseriusan mereka mengawal jalannya Porprov,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu 25 Juli 2026.

Meski demikian, Nando menilai pelaksanaan Porprov harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh sebagai bekal menghadapi Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) hingga penyelenggaraan PON XXII 2028 di NTB-NTT.

Menurutnya, ada tiga aspek mendasar yang perlu segera dibenahi, yakni pengamanan, kesiapan tim medis, serta penguatan sportivitas seluruh perangkat pertandingan.

Ia menegaskan, personel keamanan dan tenaga medis seharusnya sudah berada di lokasi jauh sebelum pertandingan dimulai sehingga setiap situasi darurat dapat ditangani dengan cepat.

“Medis harus sudah standby minimal 30 menit sampai satu jam sebelum pertandingan dimulai. Begitu juga pengamanan. Ini bagian penting dalam sebuah penyelenggaraan olahraga,” katanya.

Nando berpandangan, keributan yang muncul di beberapa cabang olahraga merupakan dinamika yang hampir selalu terjadi dalam sebuah kompetisi.

“Di mana ada kompetisi, selalu ada pihak yang merasa dirugikan atau merasa dicurangi. Itu hal yang wajar. Yang paling penting adalah bagaimana juri, wasit, manajer tim, dan ofisial tetap menjunjung tinggi sportivitas,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong KONI NTB segera menggelar rapat evaluasi bersama seluruh pengurus cabang olahraga dan panitia pelaksana setelah Porprov berakhir.

Evaluasi tersebut, menurutnya, tidak hanya membahas persoalan teknis pertandingan, tetapi juga menyangkut kesiapan organisasi, koordinasi antarpanitia, hingga mekanisme penyelesaian sengketa selama pertandingan berlangsung.

“Jangan sampai persoalan yang muncul di Porprov kembali terulang saat PON 2028. Semua harus dievaluasi secara terbuka agar menjadi pembelajaran bersama,” ujarnya.

Selain itu, Nando juga menyoroti pentingnya proses verifikasi administrasi atlet sejak jauh hari. Ia menilai sejumlah polemik yang muncul berkaitan dengan status atlet seharusnya dapat dicegah apabila proses penyaringan dilakukan lebih awal dan berbasis sistem daring.

“Screening atlet harus dilakukan jauh-jauh hari secara online. Jangan menunggu saat pertandingan baru muncul persoalan administrasi atau mutasi atlet,” katanya.

Persiapan PON Harus Dimulai Sejak Sekarang

Menghadapi PON XXII 2028, Nando menilai waktu yang dimiliki NTB sudah tidak panjang. Karena itu, ia meminta KONI segera membentuk tim persiapan dan panitia lokal agar memiliki cukup waktu belajar sebelum pesta olahraga nasional dimulai.

Menurutnya, meski NTB dan NTT berstatus tuan rumah sehingga tidak mengikuti babak kualifikasi seperti provinsi lain, momentum pelaksanaan Pra-PON harus dimanfaatkan sebagai ajang belajar bagi panitia lokal.

“Panitia lokal harus mulai dipersiapkan sejak sekarang. Mereka harus belajar soal pengamanan, pelayanan medis, transportasi, akomodasi hingga koordinasi dengan panitia nasional. Semua harus dimatangkan sejak awal,” ujarnya.

Ia juga menilai setiap cabang olahraga perlu memiliki liaison officer (LO) yang memahami teknis penyelenggaraan sehingga koordinasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Optimistis Target Lima Besar Bisa Diraih

Terkait target KONI NTB menembus lima besar pada PON 2028, Nando menilai peluang tersebut terbuka lebar apabila proses pembinaan dilakukan secara serius setelah Porprov.

Menurutnya, KONI harus segera melakukan seleksi atlet terbaik dari seluruh peraih medali, kemudian membentuk tim Pelatda yang fokus pada cabang olahraga potensial penyumbang medali.

“Target itu realistis kalau dibarengi dengan pembinaan yang serius. Jangan hanya memasang target besar, tetapi kebutuhan atlet selama Pelatda tidak dipenuhi,” katanya.

Ia menambahkan, dukungan pemerintah daerah menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan NTB sebagai tuan rumah sekaligus peserta PON.

“Pemerintah harus hadir secara penuh. Ini bukan hanya tugas KONI, tetapi membawa nama baik NTB. Dukungan anggaran, fasilitas, sarana-prasarana hingga kebijakan harus diberikan secara maksimal,” tegasnya.

Nando berharap eksekutif dan legislatif dapat duduk bersama merumuskan strategi besar menuju PON 2028 agar target prestasi berjalan seiring dengan kesiapan NTB sebagai tuan rumah.

“Ini menjadi ujian bersama, baik bagi KONI maupun pemerintah daerah. Kalau ingin sukses sebagai tuan rumah sekaligus berprestasi, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam satu visi yang sama,” pungkasnya. (GA. Im*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page