Mataram, Garda Asakota.-Ketua KONI NTB, H Mori Hanafi, menilai tingginya tensi persaingan yang mewarnai sejumlah cabang olahraga (cabor) pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 justru menjadi indikator meningkatnya kualitas kompetisi atlet daerah. Meski sempat diwarnai beberapa insiden dan protes, secara umum pelaksanaan Porprov dinilai berjalan sukses dan menjadi bahan evaluasi penting menuju PON XXII 2028 yang akan digelar di NTB-NTT.
Hingga menjelang penutupan Porprov, sebanyak 43 dari total 51 cabang olahraga telah menyelesaikan pertandingan. Sementara delapan cabor lainnya, seperti sepak bola, karate, muaythai, kabaddi, bulutangkis dan beberapa nomor lain masih menuntaskan laga final.
Menurut Mori, dinamika yang terjadi pada beberapa pertandingan tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kegagalan penyelenggaraan. Ia menegaskan sebagian besar persoalan justru muncul akibat tingginya semangat kompetisi para atlet dan ofisial.
“Kalau dulu mungkin suasananya lebih sebagai ajang hiburan. Sekarang berbeda. Kompetisinya jauh lebih ketat sehingga sensitivitas juga meningkat. Itu justru menunjukkan olahraga kita berkembang,” ujarnya kepada wartawan pada Jum’at 24 Juli 2026.
Ia mencontohkan kericuhan yang terjadi pada pertandingan pencak silat maupun BMX bukan disebabkan intervensi penyelenggara, melainkan murni akibat dinamika pertandingan dan reaksi ofisial setelah hasil diumumkan.
Dalam cabang silat, kata dia, penentuan pemenang kerap berlangsung sangat tipis sehingga keputusan juri sering memicu keberatan dari pihak yang kalah. Sedangkan di BMX, keributan bermula setelah dua pembalap bersenggolan di lintasan usai tiga pembalap lain lebih dulu menyentuh garis finis.
“Yang ribut kemudian para ofisialnya. Itu bukan kesalahan KONI. Jangan semua persoalan langsung dilempar ke KONI,” tegasnya.
Mori juga meluruskan isu mengenai sembilan atlet taekwondo asal Kabupaten Sumbawa yang sempat dikabarkan tidak dapat bertanding karena keputusan KONI NTB. Ia memastikan informasi tersebut tidak benar.
“KONI justru sudah menyatakan mereka sah bertanding dan bahkan sudah diberikan ID Card. Persoalannya ada pada aspek teknis administrasi di cabang olahraga, bukan di KONI,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa penunjukan wasit, juri maupun dewan hakim sepenuhnya menjadi kewenangan masing-masing pengurus cabang olahraga. KONI hanya menerbitkan surat keputusan berdasarkan rekomendasi resmi dari cabor.
“Wasit dan juri tidak bisa diintervensi siapa pun, termasuk KONI. Banyak yang kami datangkan dari luar daerah seperti Surabaya, Jakarta, Banten hingga Kalimantan Timur karena memang memiliki lisensi nasional,” jelasnya.
Meski demikian, KONI tetap membuka ruang penyelesaian sengketa melalui mekanisme yang telah diatur. Setiap keberatan harus terlebih dahulu disampaikan kepada pengurus cabang olahraga sebelum naik ke KONI sebagai lembaga banding.
“Kami tidak lari dari tanggung jawab. Tetapi tanggung jawab itu bertingkat. Cabang olahraga harus menyelesaikan dulu sesuai prosedur. Kalau belum selesai, baru naik ke KONI,” katanya.
Evaluasi Besar Menuju PON 2028
Di balik sukses penyelenggaraan Porprov, Mori mengakui KONI NTB memperoleh banyak pelajaran penting. Menangani 51 cabang olahraga sekaligus dengan keterbatasan anggaran bukan pekerjaan mudah.
Ia mengungkapkan ke depan KONI akan mengubah pola pembinaan atlet agar lebih fokus pada cabang olahraga yang benar-benar memiliki peluang meraih prestasi di level nasional.
“Kami harus jujur. Tidak semua cabang olahraga memiliki peluang bersaing di PON. Ke depan pembinaan akan lebih selektif. Cabang yang berpotensi meraih medali akan menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurutnya, daripada anggaran tersebar ke seluruh cabang olahraga, lebih baik difokuskan pada sekitar 35 cabang yang memiliki peluang nyata menyumbang medali bagi NTB.
“Kalau semua dipaksakan ikut, anggaran habis tetapi hasilnya tidak maksimal. Lebih baik fokus pada cabang unggulan supaya target prestasi tercapai,” katanya.
Program pemusatan latihan daerah (Pelatda) menuju PON 2028 dijadwalkan mulai bergulir pada September mendatang dengan memprioritaskan atlet-atlet peraih medali Porprov yang masih memenuhi batas usia pertandingan.
Anggaran Terbatas
Mori juga membantah anggapan bahwa penyelenggaraan Porprov menggunakan anggaran yang berlebihan. Ia memaparkan dana utama yang tersedia sekitar Rp8,8 miliar, sementara biaya akomodasi hotel saja mencapai sekitar Rp6 miliar.
Selain itu, KONI telah menyalurkan bantuan operasional kepada cabang olahraga sekitar Rp4,5 miliar. Kekurangan pembiayaan kemudian ditutupi melalui dukungan sponsor, termasuk dari PT Amman Mineral dan Bank NTB Syariah.
Ia menjelaskan besaran bantuan setiap cabor berbeda karena menyesuaikan karakter pertandingan. Misalnya aeromodelling membutuhkan anggaran lebih dari Rp600 juta karena menggunakan pesawat, sedangkan angkat besi juga membutuhkan biaya tinggi untuk pengangkutan peralatan pertandingan.
“Kalau dilihat satu angka memang kelihatan besar. Tapi setiap cabang punya kebutuhan yang berbeda. Semua bisa dipertanggungjawabkan dan siap diaudit,” tegasnya.
Optimistis NTB Masuk Lima Besar
Meski akan melakukan rasionalisasi pembinaan, Mori tetap optimistis NTB mampu menembus lima besar pada PON XXII 2028.
Ia menargetkan kontingen NTB mampu meraih lebih dari 60 medali dengan memaksimalkan pembinaan pada cabang olahraga unggulan yang berpotensi menyumbang emas.
“Saya tidak pernah berubah. Target kita tetap lima besar nasional dengan lebih dari 60 medali. Karena itu pembinaan harus fokus pada cabang yang benar-benar memiliki peluang,” pungkasnya. (GA. Im*)























