Bima, Garda Asakota.-Nama Bima kini tercatat dalam sejarah sastra Indonesia. Dua puisi karya Udin Sape Bima resmi diarsipkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Jakarta lewat buku antologi “SYAIR PERSAHABATAN INDONESIA DAN MALAYSIA” terbitan Pustaka Senja 2015.
Bagi seorang penulis dari daerah 3T, ini bukan hal mudah. Udin butuh 16 tahun kerja keras sejak 2010 untuk sampai ke titik ini. Kini Bima sejajar dengan penulis dari Aceh sampai Papua, karena Pustaka H.B. Jassin adalah arsip sastra berkapasitas nasional.
Dalam proses seleksi, Udin mengirim 5 karya. Dua di antaranya lolos, salah satunya berjudul “Kau dan Waktu”.
Antologi ini memuat karya penyair hebat Indonesia dan Malaysia. Disunting oleh Ewith Bahar jurnalis RCTI yang puisinya sudah ada di Dari Negeri Poci sejak 1993 – dan Soni Farid Maulana, penyair nasional peraih Khatulistiwa Literary Award.
“Ini bukan kemenangan saya sendiri. Ini kemenangan untuk Bima, untuk Sape, untuk Desa Sangia,” ujar Udin dengan mata berkaca, Rabu (12/8/2026).
Perjalanan Udin dimulai saat masih mahasiswa di Universitas Mataram. Ia konsisten menulis puisi tentang Cinta, Pendidikan, Politik-Budaya, dan Sosial. Ia juga pembaca puisi vokal yang sering tampil dari panggung ke panggung, termasuk mewakili NTB di Pekan Seni Mahasiswa Nasional Palangkaraya.
Hingga kini Udin sudah menerbitkan 6 buku tunggal, Senja Kabut Dalam GelasKosaKataKita Jakarta, Meraih Mimpi itu Mudah Cukup Berpikir Positif Insan Madia Mataram, The Power of Heart Republic – KosaKataKita Jakarta, The Power of Mapping – Zahir Publishing Yogyakarta, Merajut Asa Bersama Anak Negeri – Zahir Publishing Yogyakarta dan Menjadi Air di Tanah Kering Zahir Publishing, proses editing.
Karyanya juga puluhan kali masuk antologi bersama dan tembus media internasional seperti New Times Malaysia dan Utusan Borneo.
Setelah malang melintang di dunia sastra, Udin memilih pulang. Ia mendirikan Rumah Baca Salahuddin Al Ayyubi di Desa Sangia, Sape, Kabupaten Bima. Dari pengabdian itulah ia meraih penghargaan nasional dan dipercaya jadi narasumber literasi di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional. “Bagi saya, Menulis dan Pendidikan adalah jalan mengubah nasib anak bangsa,” katanya. (GA. 212*)























