Mataram, Garda Asakota.- Rencana aksi penutupan jalur menuju Pelabuhan Poto Tano–Kayangan yang akan digelar Aliansi Pemekaran Pulau Sumbawa (APPS) mulai diantisipasi serius oleh pihak PT ASDP Indonesia Ferry. Meski begitu, operasional penyeberangan lintasan vital Lombok–Sumbawa dipastikan sementara ini tetap berjalan normal selama 24 jam.
General Manager ASDP Pelabuhan Kayangan, Erlys Setia Wahyudi, menegaskan pihaknya telah menyiapkan sejumlah skenario menghadapi potensi dinamika aksi di lapangan, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa.
“Untuk saat ini, berdasarkan koordinasi yang ada, pelabuhan tetap operasional 24 jam. Kapal-kapal juga sudah siap beroperasi,” ujar Erlys kepada Garda Asakota, Senin, 01 Juni 2026.
Meski demikian, ASDP tidak menutup kemungkinan melakukan penyesuaian apabila situasi lapangan berkembang dan ada arahan dari otoritas terkait.
Menurutnya, keputusan operasional pelabuhan akan terus diselaraskan dengan koordinasi bersama Kantor Syahbandar, kepolisian, TNI, serta stakeholder lainnya.
“Kita akan terus melihat dinamika lapangan seperti apa. Kalau ada arahan dari Syahbandar, kepolisian, atau pihak terkait lainnya yang berkaitan dengan keamanan pengguna jasa, tentu kami akan mengikuti,” katanya.
Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap potensi penumpukan kendaraan di sekitar pelabuhan akibat aksi tersebut, Erlys mengungkapkan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan aparat keamanan.
Berdasarkan informasi sementara yang diterima ASDP, titik aksi diperkirakan tidak berlangsung tepat di depan pelabuhan, melainkan berada di kawasan pertigaan akses menuju pelabuhan.
“Update terakhir, kemungkinan lokasi aksi tidak di depan pelabuhan. Tapi ini masih informasi sementara, skenarionya di area pertigaan,” ujarnya.
Belajar dari pengalaman aksi tahun sebelumnya, Erlys berharap jalannya demonstrasi tetap berlangsung tertib tanpa mengganggu akses kendaraan prioritas.
“Kami berharap tetap tertib. Pengalaman tahun lalu, kendaraan ambulans dan kendaraan yang sifatnya urgent tetap diperbolehkan melintas,” katanya.
Hingga kini, lanjut Erlys, belum ada keputusan maupun rencana resmi terkait penutupan pelabuhan.
“Dari hasil komunikasi dengan pihak kepolisian lintas penyeberangan, sampai saat ini belum ada rencana penutupan pelabuhan,” tegasnya.
Kendati demikian, ASDP mengaku tetap berada dalam posisi siaga penuh apabila situasi di lapangan berubah sewaktu-waktu.
“Intinya kami standby. Kalau nanti ada informasi dari pemegang kebijakan di lapangan terkait kondisi yang mengharuskan penyesuaian operasional demi safety dan keamanan, tentu akan kami lihat dan tindak lanjuti,” katanya.
Di tengah mencuatnya rencana aksi tersebut, aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Kayangan juga mulai menunjukkan peningkatan arus kendaraan. Namun demikian, kondisi arus masuk pelabuhan disebut masih relatif lancar.
“Rame, tapi masih lancar. Mungkin masyarakat mempercepat penyeberangan karena adanya informasi aksi ini,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran layanan, ASDP menyiapkan total 28 armada kapal pada lintasan Kayangan–Poto Tano. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 kapal dioperasikan setiap hari secara bergiliran, sementara armada lainnya dalam posisi siaga.
“Kami punya total 28 armada. Operasional harian sekitar 10 kapal yang jalan bergantian, sisanya standby,” pungkas Erlys. (GA. Im*)



















