Kota Bima, Garda Asakota.-Tangis tak pecah, tapi wajahnya bicara. Saani, 76 tahun, janda lansia warga RT 08 RW 04 Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota Kota Bima hanya bisa tertunduk lesu lunglai ketika mengecek pencairan Bansos. Namanya sudah masuk Desil 6 kategori Mampu Sejahtera.
Akibatnya, semua bantuan sosial yang selama ini jadi tumpuan hidupnya, terhenti. “Hal ini dibenarkan anaknya, Mala, saat dihubungi Garda Asakota, Minggu siang (23/08/2026).
“Ibu saya sejak cek Bansos kemarin sudah tidak lagi terima Bansos karena desilnya naik ke Desil 6 seperti yang tertera di data layanan pencairan,” terang Mala.
Menurutnya, pekerjaan ibunya dulu hanya pemecah batu. Kini pekerjaan itu sudah lama ditinggalkan karena faktor usia. “Rumah pun belum lama ini ditangani Pemerintah melalui Program Baznas. Ibu tinggal sendiri dan selama ini hanya mengandalkan Bansos Pemerintah. Meski kami anak-anak tetap membantu,” ungkapnya.
“Ibu tinggal sendiri sejak menjanda puluhan tahun. Dulu menggantungkan hidup sebagai pemecah batu. Alhamdulillah setelah masuk penerima Bansos, pekerjaan berat itu ditinggalkan juga karena usia semakin uzur,” lanjutnya.
Mala khawatir, bukan hanya Bansos yang hilang. “Sekarang setelah nama ibu naik ke Desil 6 yang otomatis semua Bansos akan dihapus, lalu kemana ibu harus cari nafkah? Belum lagi kalau sakit, BPJS pun bisa saja ikut dihapus,” pungkasnya dengan nada memohon.
“Kami mohon keadilan untuk ibu kami yang sudah tua renta dan janda. Pemerintah harus hadir menyaksikan kondisi sesungguhnya, kenapa ibu kami bisa naik desilnya.”
Pendamping PKH Kelurahan Kolo, Adi, membenarkan adanya perubahan data tersebut. “Iya benar bang, di wilayah tugas saya ada sekitar 75 penerima yang naik desilnya atau ke Non Bansos, yang sebelumnya terdata sebagai penerima,” ujar Adi.
Penyebabnya, kata Adi, adalah adanya pendataan yang dilakukan oleh BKKBN Kota Bima terkait hunian dan aset. “Perubahan data penerima terjadi karena pendataan BKKBN Kota Bima soal hunian dan aset. Makanya data penerima berubah ke desil besar,” pungkasnya.
Kasus Saani menjadi potret bahwa data dan kondisi di lapangan tidak selalu sama. Seorang lansia 76 tahun yang dulu bertahan hidup sebagai pemecah batu, kini hanya tinggal di rumah bantuan dan menggantungkan hidup pada Bansos.
Warga berharap ada verifikasi ulang dan kehadiran pemerintah untuk melihat langsung kondisi penerima, agar bantuan tepat sasaran dan tidak melukai yang paling rentan. (GA. 212*)
























